Ilustrasi wilayah Kota Tomohon. (google)
Ilustrasi wilayah Kota Tomohon. (google)

Kota Kecilku

Tomohon sejak dulu merupakan daerah perlintasan jalur perdagangan untuk ke daerah Minahasa Tengah dan sekitarnya. Sehingga sejak dulu jalan utamanya terlihat ramai dengan lalu lintas berbagai jenis kendaraan bermotor. Bahkan ketika masih anak-anak hingga remaja, saya sering menyaksikan rombongan orang berjalan kaki menggiring kawanan sapi melewati Kota Tomohon. Kabarnya kawanan sapi itu akan diperdagangkan di Kota Manado.

Juga dulunya masih terlihat roda sapi di rumah penduduk. Roda sapi ini dipakai penduduk untuk ke kebun dan mengangkat hasil buminya. Hal ini sudah jarang atau sama sekali tidak terlihat lagi, karena sudah digantikan dengan kendaraan bermotor roda empat atau roda dua. Ya… karena sejak Tomohon menjadi Kota Otonom pada tahun 2013, jalan-jalan mulai diaspal mulus.

Dulunya juga terminal masih berada lahan milik GMIM (kini, Puskom GMIM), lalu di jalan belakang Rumah Sakit Umum (RSU Bethesda. Masyarakat yang hendak ke Manado, kerap berebutan naik ke kendaraan. Bahkan ada yang harus lewat jendela untuk mendapatkan tempat duduk. Kini terminal sudah dibangun berdampingan dengan pasar, sudah nampak lebih representatif, tinggal mengoptimalkan pengelolaannya. Sebab, masih terlihat terminal bayangan di beberapa sudut kota.

Dulu, di kota kecilku ini terdapat dua bioskop. Masyarakat gembira dengan adanya tempat hiburan. Kini bioskop tak ada lagi. Padahal masyarakat membutuhkan tempat-tempat hiburan.

Kini menjamur super market-super market. Masyarakat dengan mudah berbelanja keperluannya, baik di pasar tradisional maupun di super market.

Dulu, masyarakat rajin ke kebun. Kini kabarnya sebagian besar areal-areal pertanian telah dikuasai kaum bermodal. Banyak masyarakat yang telah menjual tanahnya.

Kini, kendaraan bermotor roda empat dan dua menjamu di mana-mana. Banyak kendaran tersebut yang digunakan sebagai taksi online, atau masyarakat menjadi tukang ojek dengan mangkal di persimpangan-persimpangan jalan.

Kini, Walikota Tomohon membangun Menara Alfa Omega di pusat kota Tomohon, sebelumnya dibangun Kawasan Pusat Kuliner di dekat menara itu.

Taman Kota Tomohon di’sulap’ menjadi Anugerah Hall. Sementara Hutan Kota di Jalan Rurukan dirubah menjadi Taman Kota.

Sementara resting area di Jalan Tomohon-Manado, tepatnya di Kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara yang dibangun pemerintahan sebelumnya hanya dibiarkan. Entah kapan dioperasikan.

Kini, Pemerintah Kota Tomohon membangun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anugerah, sementara banyak Pustu (Puskesmas Pembantu) yang dioperasikan.

Pemerintah Kota Tomohon (katanya) banyak membangun infrastruktu diberbagai objek wisata. Tapi nyatanya objek wisata yang kerap dikunjungi wisatawan adalah yang objek wisata yang dikelola swasta, seperti Danau Linouw di Kelurahan Lahendong, selain tentunya Pasar Ektrim di Pasar Beriman Tomohon.

Pembuatan jalan baru terus dilakukan, banyak jalan telah diaspal mulus, hotmix. Dengan demikian kawasan permukiman makin melebar. Masyarakat mulai membangun apakah rumah kediaman, maupun tempat usaha (rumah makan) dan tempat wisata di lokasi-lokasi tertentu, seperti di Woloan, Kecamatan Tomohon Barat yang kini banyak berdiri tempat-tempat wisata. Apakah tempat-tempat wisata yang menyuguhkan pemandangan Gunung Lokon dan persawahan antara Woloan dan Kayawu pembangunannya telah memenuhi izin lingkungan?

Semoga masyarakat makin sejahtera dan makmur di Kota Bunga, Kota Pendidikan, Kota Relijius Tomohon yang penuh intrik politik para elite. ***

Leave a Reply