Mgr Ignatius Suharyo. (foto: STR/Dasril Roszandi/tempo)
Mgr Ignatius Suharyo. (foto: STR/Dasril Roszandi/tempo)

Diangkat Jadi Kardinal, Mgr Ignatius: Cita-cita Saya Jadi Pastor Paroki

RELIGI

JAKARTA, publikreport.com – Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo mengaku sama sekali tidak mendapatkan sinyal atau pertanda apa pun mengenai penunjukan dirinya sebagai kardinal baru oleh Paus Fransiskus. Karena itu, Ignatius merasa sangat kaget saat mendengar kabar dari Vatikan pada awal September lalu.

Pemberitahuannya lewat telepon, tapi tidak saya angkat karena nomornya tidak saya kenal,” kata Ignatius sewaktu diwawancarai Tempo, Selasa 24 September 2019.

Informasi penunjukan itu baru dia terima setelah duta besar Indonesia untuk Vatikan meneleponnya. “Saya tidak siap menerima penunjukan itu.” Bahkan menurut dia, gara-gara memikirkan kabar ini tekanan darah imam kelahiran Sedayu, Bantul, Yogyakarta ini melonjak hingga angka 170.

Saya pusing. Pertama-tama saya berpikir rasanya tidak mungkin saya terpilih karena di Indonesia masih ada kardinal lain, senior saya dulu yang saya gantikan di sini (Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja).” Ia mengaku tidak pernah berpikir di Indonesia akan diangkat kardinal lain.

Tapi, siap tidak siap, mau tidak mau, Ignatius tak dapat menolak penunjukkan yang merupakan hak prerogatif Sri Paus itu. Menurut Ignatius, pengumuman penunjukan kardinal oleh Paus tidak dapat ditolak karena diumumkan secara publik. Hal ini berbeda dengan penunjukan dirinya menjadi Uskup Agung Semarang pada 1997 silam. Waktu itu, Ignatius juga mengaku sempat ragu. “Sewaktu ditunjuk jadi Uskup saya masih diberi kesempatan untuk berdisusi serta memikirkan.” Namun karena ia sudah berjanji untuk taat pada para pimpinan gereja katolik, Ignatius pun menerima penunjukan itu.

Lalu kenapa Ignatius seakan menunjukan keenganan setiap kali mendapatkan penunjukan? Ignatius menjawab karena menduduki jabatan tinggi seperti kardinal bukanlah cita-citanya. “Cita-cita saya kan jadi pastor paroki. Artinya melayani umat secara langsung.” Cita-cita itu sempat ia jalankan selama 9 bulan sejak dilantik jadi imam pada 1976. Namun Uskup Agung Semarang menyuruh Ignatius melanjutkan studi. “Ya sudah saya berangkat studi, lalu mengajar di Yogyakarta.” Setelah 16 tahun mengajar, Paus justru menunjuknya menjadi uskup di Semarang. “Waktu itu tidak ada alasan fundamental bagi saya menolak penugasan itu, jadi saya terima.”

Kardinal ketiga dari Indonesia

Monsinyur (Mgr) Ignatius Suharyo, uskup agung Jakarta, ditetapkan sebagai satu di antara 13 kardinal baru yang diangkat Paus Fransiskus pada 5 Oktober. Lima hari setelah pengumuman, Suharyo masih merasa deg-degan.

Para pengabdi di lingkungan Keuskupan Agung Jakarta dan para awak media sempat bertanya apakah Ignatius Suharyo sudah bisa dipanggil Bapa Kardinal. ”Sebaiknya Bapa Uskup saja,” katanya, lalu tersenyum simpul.

Suharyo mendapatkan telepon dari Nunsius Apostolik (Apolstolic Nuncio) alias Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo pada 01 September malam. Cukup lama sambungan telepon itu berlangsung untuk menyakinkan uskup berusia 69 tahun tersebut menerima anugerah kehormatan dari Paus Fransiskus.

Setelah lima hari, Suharyo muncul di publik kemarin (05/09). “Sampai sekarang tensi darah saya masih tinggi. Mudah-mudahan hari keenam besok sudah turun,” ujarnya, lantas terkekeh.

Ya, penobatan Romo Haryo, sapaan Suharyo sejak ditahbiskan sebagai imam pada 1976, memang mengubah banyak hal. Sesuai dengan tradisi Katolik, sapaannya bisa berubah. Sebagai uskup, dia bisa dipanggil Yang Mulia (His Excellency atau Sua Eccelenza). Sedangkan sebagai kardinal, dia boleh disapa Yang Utama (His Eminence atau Sua Eminenza). Sesuai dengan tradisi pula, namanya akan menjadi Ignatius Kardinal Suharyo.

Leave a Reply