Mansur Yasong memperlihatkan telur maleo yang ia dapatkan di Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Setelah itu, telur-telur dibawa ke tempat penetasan. (Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia)
Mansur Yasong memperlihatkan telur maleo yang ia dapatkan di Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Setelah itu, telur-telur dibawa ke tempat penetasan. (Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia)

Jejak Maleo di Tanjung Matop

Kamis 08 Agustus 2019 yang terik, Mansur Yasong bergegas mendorong perahu. Rekannya Suleman Gobel, bersiap menghidupkan mesin ketinting yang menempel di buritan. Keduanya adalah penjaga habitat burung maleo di Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop, Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Setiap hari mereka membantu Thamrin Latery, Kepala Resort Balai Konservasi Sumber Daya Alam [BKSDA] Sulteng, di pesisir Tanjung Matop.

Jarak Desa Pinjan ke Tanjung Matop, tempat maleo bertelur sekitar 20 menit menggunakan perahu. Di sini ada pos jaga, tempat penetasan telur, dan juga penangkaran. Tidak jauh dari tempat itu, sekira 500-an meter terlihat lubang-lubang pasir maleo bertelur.

Mansur yang berusia 70-an tahun, sejak 1985 sudah menjadi penggali telur maleo. Itu adalah tahun yang sama dengan Thamrin Latery, pertama kali ditugaskan di Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop hingga kemudian menjadi kepala resort. Sedang Suleman yang 50 tahun itu, baru bergabung di 2012, sebagai penjaga habitat maleo.

Setiap hari mereka menggali telur dan memindahkan ke tempat penetasan. Jika sudah menetas, anakan maleo dipindahkan ke penangkaran. Mansur dan Suleman memberi makan buah kemiri dan buah kelapa pada anakan maleo hingga umurnya 1-2 bulan. Lalu dilepas ke hutan Tanjung Matop.

Hari itu, di tempat penangkaran 4X7 meter ada 64 anakan maleo. Selang beberapa jam, ada telur maleo menetas. Suleman segera memindahkan piyik yang berhasil menembus timbunan pasir satu meter itu ke penangkaran. Malam hari, telur maleo kembali menetas. Jumlahnya pun bertambah.

Setiap tahun, rata-rata 600 hingga 700 butir telur maleo kami tetaskan di sini,” kata Mansur yang diamini Suleman.

Maleo senkawor [Macrocephalon maleo] merupakan burung berstatus Genting [Endangered/EN] berdasarkan Daftar Merah IUCN [International Union for Conservation Nature], badan konservasi internasional, dan juga terdaftar juga dalam Cites Appendiks I.

Pesisir Tanjung Matop adalah satu lokasi terbaik peneluran telur maleo yang puncaknya Mei, Juni, dan Juli, dan menurun di Agustus. Dalam catatan Suleman, hingga Agustus 2019, tercatat 660 butir telur berada di penetasan.

Thamrin Latery bersama Mansur pun aktif memberikan penyadaran kepada masyarakat sekitar, pentingnya menjaga maleo. Perlahan, kesadaran masyarakat mulai terlihat dengan berkurangnya jerat penangkap, selain menurunnya perburuan telur untuk dikonsumsi.

Leave a Reply