Inovasi bioplastik kini sudah marak dibuat sebagai kantong plastik alternatif, mulai dari singkong hingga kulit ikan (antarafoto/anis efizudin)
Inovasi bioplastik kini sudah marak dibuat sebagai kantong plastik alternatif, mulai dari singkong hingga kulit ikan (antarafoto/anis efizudin)

Inovasi Kantong Plastik, dari Singkong hingga Kulit Ikan

Penggunaan kantong plastik saat ini telah menyebabkan permasalahan lingkungan yang amat serius. Berbagai inovasi pun diciptakan untuk membuat kantong plastik alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Kantong-kantong plastik yang dikenal sebagai bioplastik ini memang dibuat dari tumbuh-tumbuhan hingga kulit ikan. Bioplastik ini dibuat agar wadah praktis tersebut lebih mudah diurai. Sebab, plastik dari bahan kimia yang kini populer digunakan perlu waktu sangat lama agar bisa terurai.

Akibatnya, plastik-plastik ini malah bertumpuk di permukaan Bumi hingga akhirnya bersarang di tubuh mahkluk hidup lain, hingga ke tubuh kita, manusia.

Akhir 2018 lalu, lebih dari 5 kilogram sampah plastik berupa botol minum, tali rafia, hingga sandal ditemukan di dalam perut paus yang mati dan terdampar di perairan Wakatobi.

Penelitian yang dilakukan Jenna Jambeck bahkan menyebut Indonesia sebagai negara kedua penyumbang sampah plastik terbanyak ke lautan, setelah China. Meski metodologi riset masih dipertanyakan, penelitian ini menyebut sebanyak 275 metrik ton sampah plastik memenuhi 192 negara berpantai.

Sebelumnya, paparan dari World Economic Forum pada 2016 juga menyebut lebih dari 150 juta ton plastik tersebar di lautan. Pada 2025, diprediksi rasio plastik dibandingkan ikan di samudra mencapai 1:3. Jumlah plastik diperkirakan terus bertambah menjadi 250 juta ton, sementara jumlah ikan kian menyusut.

Singkong

Singkong atau yang juga dikenal dengan sebutan cassava merupakan tumbuhan yang sering dijumpai di wilayah tropis seperti Indonesia, Brazil, dan India.

Inovasi ini salah satunya pertama kali dikenalkan oleh sebuah perusahaan bernama Telobag asal Indonesia. Berbahan dasar pati ketela atau singkong, kantong ini diklaim dapat kembali menyatu dengan tanah dan menjadi kompos alami dalam waktu dua sampai enam bulan tanpa adanya rekayasa.

Selain itu juga dapat dengan mudah larut di air dalam suhu tertentu sehingga pengguna tak perlu khawatir kantongnya akan larut saat terkena hujan. Perusahaan ini menawarkan kantong nabati berbagai ukuran juga kantong kotoran hewan.

Di Indonesia, plastik berbahan singkong ini telah diproduksi oleh Avani Eco. Perusahaan ini telah berdiri sejak 2014. Berbagai produk sekali pakai ramah lingkungan juga ditawarkan perusahaan ini. Misalnya seperti poncho, sedotan, kantong belanja, kemasan makanan, hingga alat makan.

Leave a Reply