Seorang penyelam sedang menyelam di dekat bangkai kapal yang berisi harta karun. Pada 2017, Pemerintah mulai mengangkat barang muatan kapal tenggelam (BMKT) di perairan Indonesia. (foto: Dirjen PRL KKP)
Seorang penyelam sedang menyelam di dekat bangkai kapal yang berisi harta karun. Pada 2017, Pemerintah mulai mengangkat barang muatan kapal tenggelam (BMKT) di perairan Indonesia. (foto: Dirjen PRL KKP)

Wisata Sejarah Bawah Air, Potensi Berharga Laut Nusantara

Kecelakaan kapal laut yang terjadi di masa lalu, ternyata menyimpan potensi yang besar untuk menjadi atraksi wisata sejarah di bawah air. Kapal-kapal laut tersebut, sebagian besar mengalami kecelakaan di jalur utama pelayaran wilayah Nusantara. Termasuk, jalur perairan Belitung yang dikenal sebagai jalur utama untuk perniagaan.

Besarnya potensi benda muatan kapal tenggelam (BMKT) dari kapal yang mengalami kecelakaan, menjadikan situs bersejarah tersebut sebagai warisan bawah air yang tak ternilai. Itu diakui sendiri oleh Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Tukul Rameyo Adi saat berada di Belitung, pekan lalu.

Menurut dia, perairan di Indonesia menyimpan potensi besar dari peninggalan BMKT yang tersebar di 463 titik di seluruh Indonesia. Untuk melindungi keberadaan BMKT, Pemerintah Indonesia pada 1989 sudah membentuk Panitia Nasional BMKT yang berfungsi untuk mengelola BMKT dengan lebih maksimal.

Kemudian pada 2010 lahir Undang-Undang No.11/2010 tentang Cagar Budaya,” ucapnya, pekan lalu.

Akan tetapi, Tukul menilai, setelah 19 tahun UU Cagar Budaya diterbitkan, regulasi yang mengatur tentang BMKT harusnya segera diperbarui. Tujuannya, agar pemanfaatan dan pengelolaan peninggalan BMKT bisa lebih baik dilakukan oleh Pemerintah.

Selain untuk atraksi wisata sejarah, kehadiran BMBKT di bawah perairan Indonesia juga bisa menjadi bagian dari wawasan bahari untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Terlebih, dalam Peraturan Presiden RI No.16/2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia, yang berisi tujuh pilar KKI, terdapat pilar keenam tentang budaya maritim.

BMKT dan shipwreck ini tengah berusaha untuk ditambahkan dalam tujur pilar yang ada dalam Perpres 16/2017,” ujar dia.

Menurut Tukul, ada tiga program utama yang fokus pada laut dan literasi budaya. Di antara ketiganya, ada upaya untuk mengembangkan inovasi berdasarkan literasi budaya yang ada pada kapal tenggelam dan warisan bawah air berupa BMKT.

Untuk itu, cara yang dipilih salah satunya adalah dengan membangun museum maritim. Adapun, lokasi yang dinilai cocok untuk pembangunan museum, tidak lain adalah Belitung, karena di wilayah perairan pulau tersebut ada beberapa lokasi kapal tenggelam karena kecelakan di masa lalu.

Selain itu, Belitung juga akan dipromosikan sebagai UNESCO Global Geopark dan juga merupakan satu dari 10 destinasi wisata super prioritas Pemerintah Indonesia,” ungkapnya menyebut program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang bertujuan untuk menyaingi pariwisata di Bali.

Leave a Reply