Erupsi Gunung Taal di Pulau Luzon, Filipina disertai munculnya sambaran petir. Menurut BMKG, proses terjadinya petir vulkanik diakibatkan perpindahan ion di tengah awan debu dan partikel vulkanik bersuhu tinggi. (TWITTER @CGTNOFFICIAL/KATADATA.co.id)
Erupsi Gunung Taal di Pulau Luzon, Filipina disertai munculnya sambaran petir. Menurut BMKG, proses terjadinya petir vulkanik diakibatkan perpindahan ion di tengah awan debu dan partikel vulkanik bersuhu tinggi. (TWITTER @CGTNOFFICIAL/KATADATA.co.id)

Gunung Taal Meletus

Erupsi Gunung Taal, gunung berapi teraktif kedua di Filipina, disertai dengan munculnya petir. Salah satu rekaman video amatir yang beredar di media sosial (medsos) membuat warganet bertanya-tanya mengenai fenomena tersebut. Pengguna Twitter bernama Dinda @aingprincess mengunggah video yang menggambarkan sambaran petir yang sambung-menyambung di tengah letusan awan vulkanik Gunung Taal. Cuitan tersebut telah di-retweet sebanyak 2.200 kali dan disukai sebanyak 3.800 pengguna Twitter.

Video asli berasal dari akun @Idris1M dari pengguna Twitter bernama Mohammed I. Ali, seorang fotografer, pembuat film, dan pendiri Albay Studios yang berbasis di San Juan, Calabarzon, Filipina. Video diunggah sekitar sepuluh jam yang lalu. Melalui akun Twitternya, Mohammed juga mengunggah beberapa foto yang menunjukkan dahsyatnya erupsi Gunung Taal.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun Twitternya @infoBMKG memberikan penjelasan ilmiah mengenai fenomena ini. Menurut BMKG, terjadinya petir pada saat erupsi gunung berapi tidak berbeda dengan mekanisme petir biasa. Hanya saja, awan cumulonimbus yang biasanya menjadi “sarang” petir digantikan oleh awan kepulan uap air, abu, debu, dan partikel vulkanik lainnya yang menyembur ke angkasa secara masif.

Teori Terjadinya Petir Vulkanik BMKG menyebut ada beberapa teori tentang terjadinya petir vulkanik. Pertama, sebagian besar atom yang pada awalnya netral bertumbukan dengan banyak energi bebas disertai suhu sekitar 1.500 derajat Kelvin atau 1.226,8 derajat Celcius. Hal ini menimbulkan energi yang cukup besar untuk melemparkan elektron yang terikat lemah pada beberapa atom. Pada saat yang sama, ada atom-atom yang ingin mengambil elektron yang terlepas tersebut.

“Peristiwa itu menciptakan sejumlah besar ion positif dan ion negatif. Proses selanjutnya adalah muatan ion negatif dan positif tersebut terpisah,” cuit BMKG, Senin 13 Januari 2020.

Leave a Reply