Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim pada Indonesia Data and Economic Conference (IDE) 2020, di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta pada Kamis 30 Januari 2020.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim pada Indonesia Data and Economic Conference (IDE) 2020, di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta pada Kamis 30 Januari 2020.

100 Hari Pertama, Mendikbud: Kita Potong Rantai yang Menghambat Inovasi Pendidikan

BACA JUGA: Orang Tua Diajak Bacakan Cerita Dongeng Kepada Anak

Link and match yang dimaksud itu adalah bahwa apa yang dipelajari dalam masa empat tahun di S-1 tersebut relevan atau nyambung dengan dunia nyata. Bahwa setiap belajar sesuatu dia mengerti hubungannya apa dengan dunia nyata, bukan sekadar teori melainkan teori yang dikontekstualkan dalam dunia nyata, kompetensi soft skill yang riil buat dia yang tidak bisa dilatih di lingkungan kampus,” tambahnya.

Kebijakan merdeka belajar, Nadiem berharap akan semakin banyak mengundang partisipasi masyarakat untuk bergabung dalam proses pendidikan. Karena jika hanya pemerintah yang maju maka kebijakan ini akan gagal. Oleh karena itu, harus ada perubahan pola pikir. Sebab yang bisa melakukan pendidikan secara tepat, holistik, dan inklusif, dan relevan hanya kombinasi antara pendidikan dan masyarakat.

BACA JUGA: Nadiem Akan Hapus Ujian Nasional

Mengenai adanya resistensi di masyarakat mengenai kebijakan baru ini, Nadiem mengatakan, hal tersebut wajar karena jika ingin melakukan perubahan maka harus dilakukan secara drastis.

Saya harap semua orang mengerti bahwa di Indonesia tidak ada satupun bidang pemerintahan yang tidak harus ada lompatan. Semuanya butuh lompatan. Memang negara kita begitu besar dan kita harus mengejar. Kalau tidak ada yang resisten artinya perubahan besar tersebut tidak cukup berdampak. Jadi saya melihat resistensi positif itu jadi tantangan buat kita,” ujarnya. | VERONICA DSK

Leave a Reply