You are currently viewing Ketika Jurnalisme Memunggungi Demokrasi

Ketika Jurnalisme Memunggungi Demokrasi

Hal ini berbeda dengan pemberitaan media pada masa sebelum Orde Baru tumbang, yang banyak membingkai kaum miskin sebagai korban pembangunan. Padahal jika mencermati data Oxfam di atas, ketimpangan struktural justru semakin meningkat diera reformasi. Untuk itu, media justru perlu lebih berperan dan mengambil inisiativ dalam upaya memerangi ketimpangan ekonomi yang ada jika ingin tetap berada di dalam hati publik.

6. Elemen keenam jurnalisme adalah bahwa media harus bisa menjadi forum publik untuk menyampaikan kritisisme.

Partisipasi publik melalui komentar dan tanggapan merupakan bagian yang melekat dari proses jurnalisme. Hari ini, kemajuan teknologi digital sebenarnya memungkinkan terjadinya interaksi antara pembaca/audiens dengan media. Sayangnya, hal itu masih jarang kita temui dipraktikkan. Media daring kita masih banyak berkiblat pada media cetak konvensional. Bahkan lebih buruk lagi, jika media cetak masih menyediakan kolom khusus bertajuk surat pembaca, hampir tidak pernah ditemui ada media daring yang melakukan hal serupa.

Kemudian jika media cetak, seperti Kompas, menjadikan opini dari pembaca sebagai salah satu forum utama yang menjadi ruang yang dihormati dan disegani, media daring lebih banyak bertumpu pada berita. Kalaupun ada ruang bagi kolom untuk pembaca menulis, maka kolom itu tidak mendapat tempat yang disegani dan dicari pembaca sebagaimana dilakukan Kompas. Kalaupun ada komen seperti Surat Pembaca bagi media daring, maka itu seringkali komentar langsung di bawah berita. Jika kita perhatikan, komentar itu seringkali dilakukan oleh akun yang tanpa nama (anonymous) yang menerang konten media dengan cara yang nir etika dan terlebih lagi nir fakta.

7. Elemen ketujuh adalah bahwa jurnalisme harus memikat dan relevan.

Jurnalis tak hanya membuat artikel yang memikat pembaca karena sensasional, tetapi bisa menyajikan artikel penting dan relevan dengan cara yang menarik bagi pembaca. Sayangnya pada era digital ini justru banyak berita sampah yang mencari sensasi atas nama mencari clickbait atau mengejar rating. Salah satu berita sensasional yang mencari klikbait itu misalnya berita tentang mertua yang melaporkan menantunya terkait ukuran alat kelamin menantunya. Berita itu dimuat oleh Kompas.com pada 27 Maret 2019 berjudul: “Alat Vital Dianggap Terlalu Besar, Mertua Laporkan Menantu ke Polisi”. Berita itu juga diturunkan oleh Detik.com pada tanggal yang sama dengan judul: “Mertua Cabut

Laporan Usai Lihat Alat Kelamin Menantu yang ‘Terlalu Besar’”. Masih pada hari yang sama Surya mengangkat berita serupa dengan judul: “Sito Cabut Laporan Polisi Setelah Puas Lihat Alat Kelamin Menantunya, Ternyata Ukurannya . . .”

Leave a Reply