Ruas jalan Tondano-Tomohon-Manado awal melalui Kali dan Lotta. *).
Ruas jalan Tondano-Tomohon-Manado awal melalui Kali dan Lotta. *).

Lotta, Dulu Ibukota Kakaskasen

Oleh: Adrianus Kojongian*

Banyak orang mengenal Lotta sekarang sebagai pusat Kateketik Keuskupan Manado atau lokasi makam pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol. Lain dari itu tak ada pembeda, persis tipikal desa-desa Minahasa umumnya. Apalagi, desa kecil di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa ini baru memperoleh status desanya 2012 lalu.

Sebenarnya, Lotta masa lalu sangat istimewa. Pernah menjadi salah satu negeri besar Minahasa, sebagai pusat pemerintahan dan ibukota dari Balak lalu Distrik Kakaskasen, dengan ‘dinasti’ Parengkuan sebagai penguasa turun-temurun. Tinggalan negeri tua ini sekarang hanyalah waruga-waruga dari para mantan pemimpinnya.

Distrik Kakaskasen tumbuh dari pemukiman Maiesu di Kinilow tua Kecamatan Tomohon Utara sekarang, dan telah berganti-ganti ibukota. Awalnya pindah di Kakaskasen dari Maeisu, lalu ke Kali, sekarang desa di Kecamatan Pineleng yang di tahun 1619 memunculkan kepala disebut bernama Bungkar atau Wongkar atau Wangkar yang dicatat Pater Blas Palomino sebagai ‘raja’, masih alifuru.

Kesewenangan Spanyol berakibat perang pengusiran bangsa tersebut dari Minahasa tanggal 10 Agustus 1644, yang menyebabkan Pater Lorenzo Garralda terbunuh di Kali (namanya sekarang diabadikan Katolik di Lotta). Pahlawan-pahlawan Kakaskasen ketika itu adalah Wongkar Sayow (yang waruganya dihadis ada di Lotta), kemudian Worung, Rumondor dan Tombokan. Mengkhawatirkan serangan balasan Spanyol, penduduk telah kembali ke Kakaskasen di Tomohon sekarang.

Kepala Kakaskasen terkenal kemudian adalah Lontaan yang dihikayatkan bersama Supit, Paat dan Lontoh telah pergi ke Ternate mengundang Belanda. Di Kakaskasen induk ini, para kepala silih berganti di tangan Kalalo, Sulu dan di tahun 1730 Parengkuan.

Masa Parengkuan inilah ibukota Balak Kakaskasen dipindahkannya ke Lotta yang dianggap strategis, dekat dengan Manado.Tahun 1760 Kepala Balak Kakaskasen dipegang Mainalo Parengkuan yang disebut Sangian, kemudian tahun 1790 Pangemanan dan awal tahun 1800-an Masairi ‘Sahiri’ Parengkuan yang juga disebut Mainalo yang sangat terkenal.

Dua kampung

Lotta dimasa Majoor Mainalo maju pesat, penduduk dipindahkannya dari negeri tua ke lokasi lebih baik lagi. Pahlawan-pahlawan terkenalnya ketika itu antara lain Runtulalo, Lawit Lambot dan Lawit Potot. Permusuhan berlarut dengan tetangganya di kawasan Manado sekarang, Bantik, berakhir ketika ia memperistri putri Bantik bernama Wawu Konda.

Majoor Mainalo telah menjadi Kristen dan ditemui Rasul Maluku Josef Kam April 1817 dan ditulis dengan nama Nallo atau Mali. Ia pun membantu para pejuang Minahasa pada perang melawan Belanda di Tondano 1808-1809. Ia telah memerintah Balak lalu Distrik Kakaskasen di Lotta hingga diganti berturut oleh beberapa anaknya, dimulai Alfrets Parengkuan.

Sejak tahun 1830-an Lotta mulai dijadikan tempat buangan pejuang-pejuang anti-Belanda, diawali para pejuang asal Lampung, kemudian dari Aceh dan paling terkenal Tuanku Imam Bondjol di tahun 1841 dari Sumatera Barat. Salah seorang putri Frederik Parengkuan yang juga menjadi Kepala Distrik Kakaskasen bernama Wilhelmina telah diperistri penjaga Tuanku Imam Bondjol, yakni Kopral Apolos Minggu, masuk Islam bernama Yunansi, dan kelak menurunkan Islam di Pineleng.

Leave a Reply