Peserta lomba sapu laut dan bersih sampah Pulau Bunaken, berhasil mengumpulkan sebanyak 1.270 kilogram sampah dari laut dan darat di sekitar Pantai Liang, Bunaken. Lomba menyambut HUT Provinsi Sulut ke-54 ini dilaksanakan, Jumat, 07 September 2018.
Peserta lomba sapu laut dan bersih sampah Pulau Bunaken, berhasil mengumpulkan sebanyak 1.270 kilogram sampah dari laut dan darat di sekitar Pantai Liang, Bunaken. Lomba menyambut HUT Provinsi Sulut ke-54 ini dilaksanakan, Jumat, 07 September 2018.

Sampah Plastik, Laut Tercemar dan Target SDGs

Oleh:
– Ihsannudin*
– Zeng Sih Ping**

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional [PPN]/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional [Bappenas] Republik Indonesia telah menyelenggarakan konferensi tahunan SDGs, pada 08-09 Oktober 2019. Kegiatan bertema “Sustainable Ocean for Improving Prosperity and Reducing Inequality” ini bertujuan sebagai refleksi pengalaman sekaligus merumuskan agenda bersama.

Sustainable Development Goals [SDGs] merupakan dasar pijakan Pemerintah Indonesia dalam melakukan pembangunan berkelanjutan. Ada 17 tujuan utamanya dan perlindungan keberlanjutan eksosistem laut menjadi elemen SDGs ke-14.

Perserikatan Bangsa-Bangsa [PBB] telah menetapkan target mendesak terkait SDGs urusan ekosistem laut tersebut. Targetnya, pada 2020 ini, ada upaya mengatasi dampak merugikan tersebut guna tercipta laut yang sehat dan produktif; serta melakukan konservasi setidaknya 10% wilayah pesisir. Sementara pada 2025, targetnya adalah mengurangi polutan laut termasuk sampah plastik.

Di Indonesia, sampah plastik kondisinya memang memprihatinkan. Berkaca pada riset Jambeck [2015], sampah plastik di laut Indonesia menempati urutan ke dua dunia [setelah Tiongkok]. Atau, nomor satu bila dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah kebawah dengan kuantitas mencapai 187,2 juta ton.

Sumber sampah

Kontribusi sampah plastik laut berasal dari daratan dan juga kiriman dari wilayah lain. Di tingkat global, sampah plastik yang dibuang ke laut mencapai 8 juta metrik ton. Ini tak dapat dihindari, mengingat sifat konektivitas area laut. Secara nasional, Badan Pusat Statistik [BPS] menyebutkan dari 64 juta ton sampah plastik per tahun, sekitar 3,2 juta ton dibuang ke laut.

Merunut jenisnya, sampah plastik ini berasal dari perilaku konsumtif. Berdasarkan sampling PPLH Bali di beberapa sekolah, gelas plastik menempati urutan terbesar [26%], disusul plastik bening [25%], sendok plastik [20%], sedotan plastik [11%], kresek [9%], dan mika [5%].

Temuan ini serupa dengan International Coastal Cleanup [ICC] Taiwan yang pada 2018 melakukan identifikasi di sepanjang garis pantai Taiwan. Hasilnya, sedotan plastik, botol plastik, dan tutup botol, ditemukan sebagai jenis sampah dominan.

Sampah plastik di laut, selain berpengaruh pada keberlangsungan ekosistem dan kesehatan makhluk hidup, juga berdampak pada aspek sosial ekonomi. Scientific and Technical Advisory Panel [STAP] pada 2011 menyatakan, di wilayah negara-negara APEC, lebih dari 260 spesies telah terdampak dengan nilai kerugian mencapai 1.265 juta USD per tahun, terkait sektor perikanan, perkapalan, dan pariwisata.

Mengurangi

Leave a Reply