Diskusi daring (dalam jaringan) yang digelar AMSI (Sulut bekerjasama dengan Pusat Studi Kepemiluan Fisipil Unsrat, Jumat 08 Mei 2020.
Diskusi daring (dalam jaringan) yang digelar AMSI (Sulut bekerjasama dengan Pusat Studi Kepemiluan Fisipil Unsrat, Jumat 08 Mei 2020.

Media Massa di Tengah Pandemi Covid-19

MANADO, publikreport.com – Menurunnya pendapatan atau revenue media-media massa di tengah pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019), masyarakat terus berharap memperoleh informasi akurat dan kredibel dari media yang independen dan berkualitas. Itu dibuktikan naiknya jumlah pengunjung atau pembaca khususnya media siber di masa pandemi Covid-19.

“Pendapatan berkurang drastis, ya itu harus diakui. Tapi pembaca media online naik 80 hingga 200 persen. Ini membuktikan bahwa masyarakat membutuhkan informasi media massa. Mereka menganggap informasi media sosial (medsos) diragukan validalitasnya, sehingga mereka mencari informasi secara pasti melalui media massa,” kata Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wenseslaus Manggut dalam diskusi daring (dalam jaringan) yang digelar AMSI Sulut bekerjasama dengan Pusat Studi Kepemiluan FISIPOL Unsrat, Jumat 08 Mei 2020.

Menghadapi Pilkada

Menghadapi Pilkada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) 2020, Wenseslaus mengatakan, media massa harus dijadikan sebagai alat yang dapat memberikan gambaran mengenai akuntabilitas keberhasilan Pemilu (Pemilihan Umum) itu sendiri. Alasannya, baik atau tidaknya Pemilu dilihat dari sisi akuntabilitasnya.

“Disitu peran media massa sangat penting. Media massa dijadikan media partisipasi Pemilu. Media massa harus terus menyebarkan informasi mengenai Pemilu agar masyarakat tergerak untuk berpartisipasi. Terakhir, media harus menjadi clearing house mengenai berita hoaks dan misinformasi di tengah masyarakat sehingga media massa jadi rujukan utama suksesnya Pilkada 2020,” jelasnya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulut, Ardiles Mewoh dalam diskusi online ini menyampaikan peran media massa sejauh ini dapat memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat melalui informasi-informasi kredibel sehingga masyarakat memiliki ketertarikan mengenai Pemilu maupun Pilkada. Namun media harus tetap menjaga indepedensinya dalam Pilkada 2020.

“Media tidak dijadikan alat untuk mendorong opini atau condong terhadap satu pihak dan tetap menjadi media yang independen,” ujarnya.

Jika Pilkada 2020 harus dilaksanakan pada Desember nanti, KPU mendorong tahapan-tahapan menuju pemilihan segera dilakukan dengan tetap berpegang pada ketentuan Protokol Covid-19 sehingga terhindar dari resiko dan bahaya Virus Corona.

“KPU terus mengupayakan bahwa pemilih terlindungi hak pilihnya agar partisipasi pemilih tetap baik dan tidak tergerus,” tegasnya.

Lalu bagaimana dengan pengawasan? Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulut, Herwyn Malonda menjelaskan, peran pengawasan bukan hanya tugas Bawaslu tapi media sebagai alat sentral sarana pengawasan.

“Media menjadi salah satu bagian yang harus diawasi masyarakat dalam menghadapi Pilkada 2020 di tengah Covid-19,” ungkapnya.

BACA JUGA: Diskusi AMSI Sulut: Media Menghadapi Pilkada di Tengah Covid-19

Leave a Reply