Kemacetan kendaraan bermotor yang berimbas pada peningkatan polusi udara dan kebisingan. (foto: jokosubinarto)
Kemacetan kendaraan bermotor yang berimbas pada peningkatan polusi udara dan kebisingan. (foto: jokosubinarto)

Polusi Udara dan Kerentanan Terkena Virus Corona

Temuan ini memang masih jadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Salah satu periset, Dario Caro mengatakan, tentu saja banyak hal yang berkontribusi hingga menyebabkan pasien COVID meninggal, tetapi penelitian ini bisa jadi pelengkap tentang faktor-faktor penting yang memengaruhi kehidupan pasien.

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perjalanan penyakit pasien, di seluruh dunia kami menemukan hubungan dan penjelasan tentang apa yang penting. Kami menegaskan, hasil penelitian ini bukan argumen yang bertentangan dengan temuan lain,” kata Dario Caro dalam situs milik Aarhus University.

Saat ini, semua temuan baru bermanfaat untuk sains dan otoritas. Saya menganggap, pekerjaan kami merupakan pelengkap tentang faktor yang penting diketahui bagi perjalanan pasien,” kata Dario Caro.

Selain dua riset itu, baru-baru ini juga terbit studi pendahuluan tentang hubungan antara tingkat polusi udara dan kematian akibat Corona di Inggris. Dalam laporan di The Guardian, penelitian ini belum melalui peninjauan sejawat, tetapi tentu bisa untuk memenuhi kebutuhan mendesak selama pandemi dan memperkuat bukti dari penelitian di Italia Utara dan Amerika Serikat.

Polusi udara lemahkan sistem kekebalan tubuh

Penyakit jantung, pernapasan, dan hipertensi, merupakan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan polusi udara. Kini, penyakit itu dikaitkan dengan kasus COVID-19 yang parah. Penyakit ini, seperti dikatakan Kofi Amegah, ahli epidemiologi dan polusi udara dari University of Cape Coast, Ghana, kepada Deutsche Welle, polusi udara memang berkontribusi terhadap penurunan sistem kekebalan tubuh.

Seperti ditulis WHO dalam pernyataan pers, ada beberapa kelompok rentan terhadap COVID-19, yakni orang berusia di atas 60 tahun, dan orang-orang dengan penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit pernapasan, atau hipertensi. Mereka memiliki risiko lebih besar terkena lebih parah atau kritis ketika terinfeksi virus SARS-Cov-2.

Argumen ini diperkuat Aliansi Kesehatan Masyarakat Eropa yang menduga, polusi akan mengurangi peluang seseorang bertahan hidup dari wabah Corona. Pendapat ini berdasarkan penelitian pada pasien SARS-Cov-1 pada 2003 yang menemukan, pasien yang tinggal di lingkungan dengan polusi udara tinggi, dua kali lebih mungkin meninggal dibanding mereka yang memiliki kualitas udara baik. Bahkan, di daerah tingkat pencemaran sedang, risiko kematian mereka 84% lebih tinggi.

Leave a Reply