Kemacetan kendaraan bermotor yang berimbas pada peningkatan polusi udara dan kebisingan. (foto: jokosubinarto)
Kemacetan kendaraan bermotor yang berimbas pada peningkatan polusi udara dan kebisingan. (foto: jokosubinarto)

Polusi Udara dan Kerentanan Terkena Virus Corona

Pakar Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah di Kontan, mengatakan, kontribusi pabrik terhadap emisi di Jakarta cukup besar, yakni 60%. Sayangnya, pemerintah justru berkontribusi terhadap industri penyumbang emisi itu dengan membangun PLTU di Cirebon dan Indramayu yang justru bisa memperparah kondisi udara di Jawa Barat.

Pada 2015, Greenpeace pernah riset bersama Universitas Harvard tentang dampak polusi udara dari PLTU batubara terhadap kesehatan. Mereka mengestimasi ada potensi kematian dini 21.200 jiwa pertahun termasuk di luar Indonesia dampak peningkatan risiko penyakit kronis pada orang dewasa dan infeksi saluran pernapasan akut pada anak akibat paparan partikel halus beracun dari pembakaran batubara.

Bahkan Vox melalui artikel berjudul “The deadly mix of COVID-19, air pollution, and inequality, explained” menerangkan, kerusakan karena polusi udara dapat terjadi sebelum bayi itu lahir karena ada partikel jelaga dalam plasenta sang ibu. Partikel ini bisa memengaruhi perkembangan janin seperti penurunan fungsi paru-paru. Kalau anak itu berkembang di daerah yang memiliki kualitas udara buruk, tentu akan makin memperburuk kondisi kesehatannya.

Dalam kasus COVID-19, kelompok lansia masuk dalam kategori usia rentan. Seperti ditulis oleh CNBC Indonesia tingkat risiko kematian pada kelompok umur di atas 60 tahun lebih tinggi dibanding kelompok umur di bawahnya. Risiko ini makin meningkat seiring bertambahnya usia, ditambah lagi kalau pasien memiliki riwayat penyakit rentan terhadap COVID-19.

Kembali pada riset Greenpeace, bukan tak mungkin lansia yang secara akumulatif tinggal di lingkungan berpolusi tinggi akan makin rentan karena kekebalan tubuh menurun. Atau, bisa jadi, mereka yang tinggal di lingkungan berpolusi akan terkena penyakit degeneratif oleh paparan udara kotor, hingga dalam wabah COVID-19 ini mereka jadi kelompok rentan.

Masalah lain mungkin muncul yakni, ketimpangan akses pelayanan kesehatan. Mereka yang tinggal di perkotaan dan memiliki kemampuan finansial baik, tentu lebih mudah mengakses layanan kesehatan primer dan mendapatkan fasilitas kesehatan lebih baik.

Apakah akan membiarkan kualitas udara buruk terus meracuni kita dan membuat kian rentan? Padahal, udara bersih, lingkungan sehat, dan jaminan atas kesehatan adalah hak warga negara.

*Kedua penulis dari Trend Asia, sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak dalam kampanye energi bersih terbarukan. Tulisan ini merupakan opini para penulis. || MONGABAY.co.id

Daftar Pustaka

[1] Xiao Wu, et. al. 2020. Exposure to air pollution and Covid-19 mortality in United States.
[2] Conticini, E., et.al. 2020. Can atmospheric pollution be considered a co-factor in extremely high level of SARS-Cov-2 lethality in Northern Italy? Environmental Pollution Journal.
[3] “Link between air pollution and corona mortality in Italy could be possible” dipublikasikan oleh Aarhus University
[4] “Coronavirus: Air pollution might raise risk of fatality” dipublikasikan oleh Deutsche Welle
[5] “Media Statement: Knowing the risk for COVID-19” dipublikasikan oleh WHO
[6] Yan Cui, et. al. 2003. Air pollution and case fatality of SARS in the People’s Republic of China: an ecologic study. Environmental Health Journal.
[7] “Jakarta, Banten, & Jabar Paling Rentan terhadap Covid-19” dipublikasikan oleh Katadata
[8] “Jakarta Peringkat Satu di Asia Tenggara untuk Kualitas Udara Terburuk” dipublikasikan oleh Greenpeace
[9] “Mengatasi Polusi Udara dengan Pembatasan Kendaraan Bermotor Tidaklah Cukup” dipublikasikan oleh Greenpeace
[10] “Ringkasan: Kita, Batubara, dan Polusi Udara” dipublikasikan oleh Greenpeace
[11] “The deadly mix of Covid-19, air pollution, and inequality, explained” dipublikasikan oleh Vox
[12] “Walhi: 10 PLTU Batu Bara Sumbang 30 Persen Polusi Jakarta” dipublikasikan oleh CNNIndonesia.com
[13] “PLTU Suralaya Menyumbang Pencemaran NOx yang Tinggi di Jawa, Sejumlah Organisasi Lingkungan Desak Pendana Korea Tidak Terlibat dalam Proyek Ekspansi PLTU Suralaya” dipublikasikan oleh Walhi
[14] “Pengamat: Polusi industri di Jakarta Perlu Dituntaskan” dipublikasikan oleh Kontan
[15] “Walhi Soroti Proyek PLTU di Jabar: Mulai dari Isu Lingkungan, Soal Kesejahteraan Masyarakat Hingga Aroma Dugaan Korupsi” dipublikasikan oleh BandungKita.id.

Leave a Reply