Philip Laoh. (Foto: adrianuskojongian.blogspot.com/reprobode).
Philip Laoh. (Foto: adrianuskojongian.blogspot.com/reprobode).

Philip Laoh, Doktor Pertama Minahasa

Siapa sebenarnya doktor pertama orang Minahasa, pernah disebutkan nama Dr (Doktor) Sam Ratulangi, lalu juga Dr Roland Tumbelaka. Sam Ratulangi meraih gelar doktor ilmu pasti dan alam 17 Desember 1918 di Universitas Zürich Swiss, dan Roland Tumbelaka doktor geneeskunde 09 Desember 1919 di Universitas Utrecht Negeri Belanda.

Oleh: ADRIANUS KOJONGIAN
[ADRIANUSKOJONGIAN.blogspot.com]

Ternyata, dokter Philip Laohlah orang Minahasa pertama yang menjadi penyandang gelar doktor. Philip Laoh adalah kakak Frtis H Laoh bekas Menteri Perhubungan, dan Ir Herling Laoh, bekas Menteri Pekerjaan Umum.

Philip Laoh lahir tanggal 26 Mei 1879 di Sonder Minahasa. Ia masuk School tot Opleiding Inlandsch Arts (STOVIA) di Weltevreden tahun 1893, dan berhasil lulus menjadi dokter bumiputera (inlandsch arts) tanggal 23 Desember 1898.

Seperti tamatan lain umumnya ia terikat pekerjaan sebagai dokter Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (BGD=Dinas Kesehatan Sipil) Hindia-Belanda.

Penugasannya sebagai dokter yang saat itu tetap dijuluki sebagai dokter-djawa, seperti tertera pada pengumuman penempatan sebagai pegawai, pertama kali di bulan Januari 1899. Ia ditempatkan di Stadsverband Batavia. Tapi, di rumah sakit gubernemen di Glodok itu, Philip Laoh tidak lama. Bulan Maret 1899 itu juga, ia dipindah ke Bangka, bekerja di Pangkal Pinang.

Philip Laoh ternyata tidak betah bekerja dalam ikatan dinas, apalagi gajinya kecil. Tawaran menjadi dokter di berbagai perkebunan dan perusahaan banyak menarik minat dokter muda kala itu.

Philip Laoh bercita-cita mengambil gelar arts (dokter) di Belanda, bahkan gelar doktor. Jadi, ia minta berhenti sebagai dokter gubernemen, yang baru dikabulkan bulan Februari 1901. Jadilah, ia bekerja di Palembang, lalu sebagai dokter perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) di Samarinda Kalimantan. Philip Laoh saat itu bekerja sambil giat menulis di berbagai media, terutama tentang penyakit beri-beri dan cara penanggulangannya.

Bulan April 1903 ketika ia bekerja di Palembang, bukunya yang berjudul Iets over de Aetiologie, Prophylaxis en Therapie der Beri-beri, bijdrage tot de kennis der infectieziekten diterbitkan G.Kolff&Co Batavia, dijual seharga f.1.50 per buku. Buku mana mendapat sambutan serta reaksi meluas di kalangan dokter, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Negeri Belanda.

Leave a Reply