Bupati dan Kapolres Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana dan AKBP Tony Budhi Susetyo bersama unsur Forkompimda mendengarkan curhatan warga Kampung Bowone tentang aktivitas pertambangan. Aduan dan curhatan warga berlangsung di lokasi tanah Mahamu, Kamis 28 Mei 2020.
Bupati dan Kapolres Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana dan AKBP Tony Budhi Susetyo bersama unsur Forkompimda mendengarkan curhatan warga Kampung Bowone tentang aktivitas pertambangan. Aduan dan curhatan warga berlangsung di lokasi tanah Mahamu, Kamis 28 Mei 2020.

Warga Bowone Curhat Masalah Tambang ke Bupati dan Kapolres

SANGIHE, publikreport.com – Karena berbulan-bulan dilarang melakukan aktivitas pertambangan emas dilahan milik sendiri, warga Kampung Bowone, Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Kamis 28 Mei 2020, mengadu sekaligus curhat (mencurahkan isi hati) kepada Bupati Sangihe, Jabes Ezar Gaghana dan Kapolres (Kepala Kepolisian Resort) Sangihe, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Tony Budhi Susetyo.

Curhat warga yang berlangsung dilokasi tambang Tanah Mahamu, terkait tindakan pihak polres Sangihe yang selama ini hanya tegas kepada penambang tradisional, sedangkan penambang bermodal yang mengerahkan enam unit excavator terkesan enggan ditindaki.

“Jika memang ingin menegakkan hukum jangan pilih kasih. Kami butuh makan dan kami harus bekerja. Jika excavator diizinkan tanpa ditindak, izinkanlah kami kembali bekerja di lahan kami sendiri,” pinta Melky Hontong, salah satu penambang dihadapan Jabes dan Tony serta unsur Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) yang turut hadir.

BACA JUGA: Excavator Masuk Tambang, Penambang Tradisional Protes

BACA JUGA: Sangihe Marak Penambangan Emas

Sayangnya dalam dialog itu aspirasi warga sedikit terpecah, sebab ada warga lainya yang tidak mempermasalahkan kehadiran excavator dan lebih menuntut diberi kesempatan dapat kembali melakukan aktivitas tambang.

“Mohon maaf pak Kapolres dan pak Bupati, kami hanya mohon dapat bekerja kembali dilokasi tambang. Mengenai tuntutan excavator, saya dan teman-teman lainnya tidak keberatan. Sebab kami merasa belum terusik oleh kehadiran excavator dan kami lebih berharap bapak-bapak dapat mengijinkan kami mencari nafkah,” kata penambang lainnya.

“Saya juga meminta ada kebijakan terhadap teman-teman kami yang saat ini ditahan di Polres dapat dibebaskan. Sebab saya menyayangkan mengapa penambang tradisional ditahan sementara excavator beberapa hari lalu masih beroperasi dan tidak ditindaki,” sambungnya.

BACA JUGA: Tambang Bowone Ditutup, Warga Mengadu ke DPRD

Leave a Reply