Parigi Pingkan di Ranowangko Tombariri. (foto: adrianus/koleksi bodetalumewo)
Parigi Pingkan di Ranowangko Tombariri. (foto: adrianus/koleksi bodetalumewo)

Tateli, Legenda Mandolang dan Pingkan

Legenda-legenda Tombulu kaya dengan kisah-kisah tentang Mandolang, negeri lama yang pernah mentereng di lokasi Tateli saat ini. Mandolang dihikayatkan telah ada sejak anak keturunan Toar-Lumimuut.

Oleh: Adrianus Kojongian
(adrianuskojongian.blogspot.com)

Tateli, sekarang lima desa di Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa adalah negeri Tombulu yang telah masyur sejak awal peradaban Minahasa. Telah berdiri jauh-jauh hari bahkan sebelum orang Minahasa berkenalan dengan bangsa asing dan suku-suku lain.

Legenda-legenda Tombulu kaya dengan kisah-kisah tentang Mandolang, negeri lama yang pernah mentereng di lokasi Tateli saat ini. Mandolang dihikayatkan telah ada sejak anak keturunan Toar-Lumimuut.

Penulis terkenal Dr JGF Riedel menyebut anak-cucu Toar-Lumimuut dari turunan se-Makatelu-Pitu, yakni Dotu Pangerapan dan Pontomandolang yang datang ke Mandolang, Keduanya beserta istri-istri mereka Kureisina, Rameipatola dan Raunpatola datang dari Tuur in Tanah, lalu mendirikan Soanga dekat Tateli, selain negeri Lumalengkei di Tanjung Pulisan. Nama Mandolang berasal dari tokoh Pontomandolang.

Setelah pembagian di Watu Pinawetengan, Tombulu mulai menyebar. Mandolang pun didiami. Namun, Mandolang banyak kali ditinggalkan ulang, karena gangguan para bajak laut asal Mindanau yang dikenal sebagai Mangindano yang melakukan pembumihangusan, pembunuhan dan penculikan kaum pria dan perempuan. Mandolang tetap didatangi penduduk Tombulu dan dari pedalaman lain Minahasa untuk mendonasin, mengambil garam.

Ketika itu, Mandolang mulai didatangi suku-suku lain. Perselisihan dengan pendatang tidak terhindarkan, menimbulkan banyak konflik tidak berkesudahan, terutama dengan pengayauan, dimana banyak penduduk Kakaskasen dan Minahasa umumnya sangat menderita. Terkenal di masa itu kisah Lokon Mangundap, pahlawan yang kemudian menjadi kepala di Tombariri.

Dari cerita-cerita rakyat Kakaskasen, Tomohon dan Tombariri, Lokon Mangundap bersama Kalalo, Aper, Karundeng, Kapalaan dan Posumah (Riedel menyebut mereka Lokon Mangundap, Kalele, Aper, Karundeng, Kapongoan, Karumah dan Posumah) telah berhasil mengamankan Mandolang dan jalur mendonasin dengan memberantas para pengayau yang suka mengganggu penduduk Tombulu dan Minahasa lain yang pergi ke Mandolang untuk mengambil garam.

Kepadanya, Kepala Kakaskasen telah menyerahkan untuk menjadi milik orang Tombariri, tanah-tanah luas pula. Tombariri yang semula hanya meliputi kawasan Woloan sekarang dan sebelah selatan sungai Ranowangko hingga pantai barat liwat pegunungan Manembo-nembo, ditambahi dengan wilayah yang ada di sebelah utara sungai Ranowangko, meliputi gugusan gunung-gunung Lokon, Kasehe, Tatawiren hingga di tepi pantai sebelah barat. Lokasi mana dikenal sekarang sebagai luasan Kecamatan Tombariri, bersipat di arah pantai dekat Mandolang di timur Mokupa.

Leave a Reply