Perwakilan perwakilan Lembaga Kemashalatan Keluarga Nahdlatul Ulama, Alissa Wahid pada workshop pelibatan Forlappa (Forum Lintas Agama untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang diikuti sekitar 270 peserta. Workshop ini merupakan bentuk dukungan gerakan bersama jaga keluarga kita (#berjarak).
Perwakilan perwakilan Lembaga Kemashalatan Keluarga Nahdlatul Ulama, Alissa Wahid pada workshop pelibatan Forlappa (Forum Lintas Agama untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang diikuti sekitar 270 peserta. Workshop ini merupakan bentuk dukungan gerakan bersama jaga keluarga kita (#berjarak).

Pandemi Covid-19 Disebut Memicu KDRT

JAKARTA, publikreport.com – Pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) bukan sekadar bencana kesehatan, namun menyebabkan bencana ganda, bahkan majemuk. Salah satunya adalah bencana ekonomi yang akhirnya memicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). KDRT tidak hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan instrumental dan intervensi negara, namun juga dibutuhkan pendekatan secara keagamaan. Oleh karenanya, peranan para tokoh agama dan organisasi keagamaan di tengah pandemi Covid-19 menjadi penting untuk memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat.

Hal ini terungkap pada workshop pelibatan Forlappa (Forum Lintas Agama untuk Pemberdayaan Perempuuan dan Perlindungan Anak) yang diikuti sekitar 270 peserta. Workshop ini merupakan bentuk dukungan gerakan bersama jaga keluarga kita (#berjarak).

“Tokoh agama dan organisasi keagamaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat pada umumnya dan kepada umat masing-masing agama pada khususnya. Tokoh agama dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang berbagai stigma yang muncul terkait Covid-19. Di samping itu, tokoh agama juga dapat memberikan rasa tenang, nyaman, dan mendorong masyarakat untuk selalu berdoa dan bersabar di tengah pandemi Covid-19,” kata Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), Indra Gunawan dalam siaran pers Publikasi dan Media Kementerian PPPA yang diterima publikreport.com, Rabu 03 Juni 2020, malam.

Berdasarkan data aduan Layanan Psikologi Sehat Jiwa (Sejiwa) yang masuk ke nomor layanan pengaduan Kementerian PPPA, selang 10-22 Mei 2020, menurut Indra, terdapat 453 kasus kekerasan. Dari 453 kasus, 227 diantaranya merupakan kasus KDRT. Sebanyak 211 laporan KDRT dilakukan oleh suami terhadap istri dan anak-anak.

Sementara perwakilan Lembaga Kemashalatan Keluarga Nahdlatul Ulama, Alissa Wahid mengatakan, KDRT di masa pandemi Covid-19 tidak secara tiba-tiba muncul. Hal ini bergantung pada pilar/pondasi yang sudah dibangun sebuah keluarga sebelumnya.

“Beberapa tekanan psikososial ekonomi selama pandemi Covid-19 yang memicu adanya KDRT, diantaranya mata pencaharian (livelihood) yang menurun drastis, terutama bagi kelompok ekonomi menengah ke bawah yang bekerja di sektor informal dan tidak bisa mengandalkan gaji bulanan, ketidakpastian di masa depan, relasi kuasa (berbasis gender, utamanya antara suami istri), dan keterbatasan ruang pribadi akibat harus berbagi ruang dengan anggota keluarga lainnya selama di rumah saja. Jika keluarga tidak bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik, maka semua ini akan memicu emosi negatif dan akhirnya menyebabkan KDRT,” jelas Alissa.

Budaya patriarki yang selama ini mengakar di masyarakat, menurut Alissa, memberi ruang yang sangat besar untuk terjadinya KDRT. Beberapa faktor lainnya yang selama ini memicu terjadinya KDRT, diantaranya ketidakmampuan mengelola hubungan yang memberdayakan (ketidakmampuan mengelola sebuah permasalahan), adanya relasi kuasa, kurang matangnya pasangan (keseimbangan antara memperjuangkan hak pribadi dengan tenggang rasa atas hak orang lain), dan kurangnya pembekalan mengelola dinamika perkawinan. Oleh karenanya, tokoh agama dan organisasi keagamaan harus turut andil membina para umatnya, termasuk keluarga agar memiliki pilar/pondasi yang kuat.

“Agama menolak kekerasan. Kekuatan agama untuk membina keluarga selaras dengan ketika agama membina umatnya. Ini yang menyebabkan tokoh agama memiliki peran yang sangat besar untuk mendampingi umatnya, termasuk keluarga. Landasan perkawinan adalah prinsip keadilan, kesalingan, dan keseimbangan. Jika pondasi tersebut semakin kuat, maka semakin kuat pilarnya,” paparnya.

Leave a Reply