Lokasi tambang emas liar di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Penyidik Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi, Seksi Wilayah III Manado, melimpahkan kasus tambang emas liar itu kepada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Senin 20 April 2020. (Foto: Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi/Mongabay Indonesia)
Lokasi tambang emas liar di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Penyidik Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi, Seksi Wilayah III Manado, melimpahkan kasus tambang emas liar itu kepada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Senin 20 April 2020. (Foto: Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi/Mongabay Indonesia)

Refleksi Hari Lingkungan Hidup di Masa Pandemi

“Makanan yang kita makan, udara yang kita hirup, air yang kita minum. Dan iklim yang membuat planet kita layak huni, semua berasal dari alam. Untuk merawat diri kita sendiri, kita harus memelihara alam. Sudah waktunya, untuk memelihara alam lebih baik bagi manusia dan planet ini.”

Begitu antara lain sambutan Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, 05 Juni 2020.

Tahun ini, peringatan Hari Lingkungan Hidup berpusat di Kolumbia, kala dunia terkena pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dengan tema,”Biodiversity, Time for Nature.”

Timbulnya bencana pandemi Covid-19 ini, kata Siti, menunjukkan bahwa kalau manusia merusak keragaman hayati, juga merusak sistem pendukung kehidupan manusia.

“Pandemi Covid-19 ini juga memberikan pelajaran berharga bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan alam,” katanya.

Di masa pandemi, banyak negara lockdown, kegiatan industri tutup secara global, transportasi udara turun 96%, mobilitas manusia turun 90%, katanya, di berbagai belahan dunia terjadi perbaikan kualitas udara. Konsentrasi NO2 global turun 30%, stasiun pantauan kualitas udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat penurunan konsentrasi PM2,5 cukup signifikan di berbagai kota. Bahkan, selama dua bulan peneraban pembatasan sosial berskala global (PSBB) terjadi penurunan konsentrasi PM2,5 di Jakarta, sekitar 45%.

Kualitas air juga alami perbaikan secara global. Analisis satelit, danau-danau di India, terjadi penurunan konserntrasi rata-rata 15,9% di daerah yang terpengaruh industri. Data stasiun monitoring kualitas air KLHK, katanya, menditeksi penurunan chemical oxygen demand (COD) Sungai Brantas sebesar 21%.

Keragaman hayati, kata Siti, meskipun terjadi tekanan dalam pengelolaan, seperti taman nasional, maupun lembaga konservasi, tetapi di berbagai belahan dunia, tampak satwa liar [hidup bebas] di pemukiman manusia. “Berkurangnya tekanan manusia terhadap alam, menyebabkan alam memperbaiki dirinya sendiri.”

Bicara soal keragaman hayati, kata Siti, Indonesia, sebagai negara berhutan tropis luas dan mega biodiversiti hingga berperan strategis dalam menjaga keragaman hayati global.

Leave a Reply