Webinar Aku Netizen Unggul - Internet Aman Untuk Anak (Teman Anak) yang digelar Kementerian PPPA, Kamis 18 Juni 2020.
Webinar Aku Netizen Unggul - Internet Aman Untuk Anak (Teman Anak) yang digelar Kementerian PPPA, Kamis 18 Juni 2020.

Bagaimana Internet Aman Untuk Anak

Mempelajari dampak positif maupun negatif internet bagi anak tidak dapat dilakukan hanya sekali. Menurut Program Manager ECPAT Indonesia Andy Ardian, banyak informasi mengenai internet yang terus diupdate atau berkembang, sehingga edukasi perlu dilakukan berulang kali.

Pada awal mula dibuat, internet memang tidak dirancang untuk pengguna anak. Maka perkembangan informasi dan pengetahuan tentang dampak internet harus diedukasikan oleh orang tua maupun sesama anak agar anak bisa menjaga diri dan terhindar dari risiko-risiko negatif dari internet serta bisa mengoptimalkan penggunaan internet dengan baik. Hal ini tidak bisa kita lakukan hanya sekali dua kali,” jelas Andy Ardian dalam Webinar Aku Netizen Unggul – Internet Aman Untuk Anak (Teman Anak) yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kamis 18 Juni 2020.

Manfaat internet seperti untuk belajar dan sosialisasi, informasi terkait jejak digital juga perlu dikenali anak. Segala aktivitas di internet akan meninggalkan jejak atau sejarah online yang dapat dilihat orang lain atau terdata di dalam database. Hal ini berdampak buruk jika dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan digital, seperti penipuan, hacking atau pembajakan, kekerasan dan eksploitasi.

Eksploitasi seksual anak online ini yang sangat perlu untuk diwaspadai. Bentuk-bentuknya bisa berupa materi yang menampilkan kekerasan atau eksploitasi anak, grooming atau pedekate untuk tujuan seksual online, sexting, pemerasan seksual hingga live streaming atau siaran langsung untuk kekerasan seksual pada anak. Faktanya, eksploitasi seksual anak online terindikasi semakin merebak di masa pandemi Covid-19,” bebernya.

Laporan tentang eksploitasi seksual anak online yang diterima NCMEC (National Center for Missing and Exploited Children) pada April 2020, Andi memaparkan, mencatat 4,2 juta konten eksploitasi seksual anak yang didistribusikan atau diakses. Jumlah ini meningkat 2 juta dalam sebulan dibanding data bulan Maret 2020.

Menanggapi maraknya kejahatan online yang menyasar anak, Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian PPPA, Nahar mengatakan pentingnya upaya-upaya pencegahan bersama yang dilakukan oleh orang tua dan anak untuk menghindari dampak buruk internet.

Leave a Reply