Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.
Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.

Kombangen dan Siow Kurur

Konon tempo dulu, ketika jaman para Opo (dewa) dan tokoh mitos, puncak Gunung Tatawiren di perbatasan Tomohon, Tombariri dan Pineleng masih lebih tinggi dari Gunung Lokon di sebelahnya. Malahan, ujung Tatawiren menyentuh kasendukan (dunia di atas, kayangan), tempat dimana para Opo bermukim. Tatawiren menjadi tangga penghubung dunia kayangan dengan dunia bawah, yakni bumi, yang dihuni manusia.

Alkisah, di jaman inilah hidup seorang lelaki berbadan raksasa, bernama Sero. Hidupnya sehari-hari hanya makan lalu tidur mendengkur. Akibatnya, tubuhnya tumbuh besar dan tambun dari hari ke hari. Orang-orang kemudian menggelarinya Kombangen, karena rakus dan pemakan banyak.

Ketika tumbuh besar, sekali makan, ia mampu menghabiskan satu belanga nasi besar, sehingga menghabiskan semua jatah makanan ayah-ibunya. Tak heran, dari menyayangi, perasaan orang tuanya berubah menjadi tidak suka. Malah, belakangan seiring waktu berputar, mereka mulai memikirkan berbagai siasat untuk mengusir, dan tragisnya lalu berencana membunuh Kombangen.

Suatu hari, Kombangen diajak ayahnya bekerja di kebun yang jauh dari rumah mereka. Dasarnya Kombangen kuat, namun cepat lapar. Ketika makan, ia menyantap habis bekal yang dibawa, lalu tidur di sebuah lobang besar.

Sang ayah terkejut melihat makanannya tidak bersisa. Ia naik pitam, dan bertekad membunuh Kombangen. Batu besar di atas lobang tempat Kombangen tidur, didorongnya dengan susah-payah, sehingga menutupi liang. Pikirnya, Kombangen tentu mati kehabisan napas, atau mati karena kelaparan terperangkap di dalamnya.

Nyatanya, belum beberapa jenak sang ayah tiba di rumah, Kombangen sudah berkoar-koar memanggil ayah-ibunya. ‘’Aku membawa batu besar untuk tungku masak. Sekarang aku lapar sekali,’’ teriaknya. Batu itulah yang dipakai ayahnya untuk mengurungnya di lobang kebun.

Dari rasa kaget, ayah dan ibunya berikhtiar lain. Kombangen diketahui cuma badannya raksasa, tapi, otaknya tumpul. ‘’Kombangen, larilah, karena Gunung Lokon akan meletus. Nanti, kami menyusul,’’ seru ayah-ibunya mengakali.

Maka, tanpa pikir panjang lagi, Kombangen lari serabutan ke dalam hutan. Sekejab saja ia melewati bagian lain hutan yang tidak dikenalinya, dan masih terus berlari. Maka, ketika malam hari tiba, ia tidak mengetahui lagi keberadaannya di mana. Tersesat tanpa tujuan, perangai Kombangen menjadi liar tidak terkendali. Dari waktu ke waktu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, ia mengembara kesana-kemari, menjelajahi hutan-hutan Minahasa.

Leave a Reply