Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.
Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.

Kombangen dan Siow Kurur

Kombangen makan apa saja yang ditemuinya, tanpa pandang bulu. Akibatnya, keseimbangan Minahasa terganggu. Binatang buruan menipis, karena jadi santapannya sehari-hari. Yang marah adalah para Opo. Setelah berunding, mereka sepakat mengirim opo jangkung bernama Siow Kurur (sembilan lutut), untuk menghentikan Kombangen.

Bayangkan saja, manusia saat itu sudah tinggi raksasa, tapi Siow Kurur masih jauh melampaui tinggi mereka. Malahan, tingginya menjangkau dua-sampai tiga kali orang biasa, karena ia bertungkai kaki panjang.

Kebetulan di kaki Gunung Tatawiren mereka bertemu. Disuruh berhenti merusak hutan dengan penghuni seisinya, Kombangen naik pitam. ‘’ Biar tubuhmu tinggi jauh melewatiku, tapi engkau kurus kering. Saya bisa meremukkanmu,’’ seru Kombangen.

Ia mengajak Siow Kurur adu ketangkasan. Tentu tantangannya dilayani, dengan syarat kalau Kombangen kalah, ia akan menjadi manusia baik. Ternyata, keduanya berimbang. Adu alat perang, keduanya seimbang. Dalam adu lari Siow Kurur menang, namun saat adu angkat berat, Kombangen balas mengalahkannya.

Tidak ada yang menang dan kalah, keduanya duduk kelelahan. Tapi, sekejab kemudian, akal Siow Kurur timbul. ‘’Bagaimana kalau kita potong Tatawiren, lalu kita buang ke laut. Kita uji siapa terkuat. Kau pikul di darat, aku di laut,’’ usulnya.

Tantangan tersebut diterima Kombangen. Karena sakti, tak berselang lama, puncak Gunung Tatawiren sudah terpangkas. Untuk pertama, Kombangen yang memikul, dan sebagai wasit Siow Kurur ikut duduk di bagian puncak mengawasi kalau-kalau Kombangen main ruci.

Kombangen memang kuat, namun cepat lelah. Belum setengah perjalanan ke pantai (Mokupa sekarang) di barat-laut, ia sudah kelelahan. Tanpa dilihat Siow Kurur, ia menembik sekepal-sekepal bebannya, lalu dilemparnya sepanjang perjalanan.

Demikian halnya dengan Siow Kurur. Ketika gilirannya memikul dari pantai, ia mampu mencapai batas di tengah laut dengan hanya sembilan kali melangkah. Tapi, ia tidak sekuat Kombangen, sehingga diam-diam bermain curang. Ia pun mengambil sekepal-sekepal bagian tanah puncak Tatawiren yang dipikul, kemudian dilemparkan berhamburan di laut, tanpa ketahuan Kombangen.

Leave a Reply