Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.
Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.

Kombangen dan Siow Kurur

Konon, sejak saat itu perhubungan langsung manusia di bumi dengan para Opo di kayangan terputus. Kemudian, bagian tanah yang dibuang Kombangen berubah menjadi berbagai bukit yang oleh penduduk dinamai Winerenan im Bengkow (lurus tapi bengkok), barisan perbukitan di kawasan Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Kalau dilihat dari ketinggian Gunung Tatawiren, bukit-bukit tersebut kelihatan lurus meski sebenarnya tidak lurus. Nama-nama bukitnya antara lain adalah: Wawona, Waleneko’ko, Tepa dan lain sebagainya.

Sedangkan tanah lemparan Siow Kurur di laut berubah menjadi pulau-pulau: Bunaken, Siladen, Mantehage, Bangka dan pulau lainnya di kawasan perairan Likupang. Puncak Gunung Tatawiren hasil kutungan mereka berubah menjadi pulau Manado Tua yang berbentuk kerucut.

Kombangen sendiri akhirnya berubah tabiat menjadi baik, dan bersahabat dengan Siow Kurur.

*Cerita rakyat ini telah berkali dipublikasi di berbagai media sejak tahun 1980-an, merupakan versi Tombariri, dari Lemoh, Lolah, Tara-Tara dan Woloan. Siow Kurur disebut oleh Dr.J.F.G.Riedel sebagai anak Toar-Limumuut, masuk golongan Makateluh-pituh. Meski disebut Riedel sebagai opo tidak penting dan sekadar anak buah Rumojaporong, tapi, mitologi berkaitan Siow Kurur di Tombulu aneka kisah. Ia dikait-kaitkan dengan peristiwa angin puting-beliung dan rumput wariri, saat tercetusnya nama Tombariri dan Mariri di Poigar Bolmong. Ada kisah pula, ia diterbangkan ke Siau dan menjadi nenek-moyang penduduk Siau. Ada kisah lain, ia menjadi bisu, lalu pula ia menjelma menjadi burung malam, malah sebagai hantu Pok-Pok (pontianak). Banyak kalangan mempercayai kubur Siow Kurur berada di lokasi bernama Kentur Kelurahan Pinaras Kecamatan Tomohon Selatan. Namun, versi lain waruganya di perkebunan Rano in Tenga Pisok Desa Kauneran Kecamatan Sonder Minahasa, yang dari penghitungan sejarawan H.M.Taulu, kuburannya sepanjang 6,06 meter. Pembahasan panjang-lebar tentang Kombangen (dan juga Siow Kurur) diulas J.Alb.T.Schwarz dan N.Adriani dalam ‘Het verhaal van den Gulzigaard in het Tontemboansch, Sangireesch en Bare’e’, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap, Deel LVI, 1906 (Internet Archief), | Adrianus Kojongian, buku ‘Tomohon Kotaku’, 2006/ADRIANUSKOJONGIAN.blogspot.com.

Leave a Reply