Riedel bersama Raja dan mantri Gorontalo. *)
Riedel bersama Raja dan mantri Gorontalo. *)

Bolaang Uki dan Orang Bolango

Oleh: Adrianus Kojongian

Bolaang Uki dengan orang Bolango banyak diulas dari dulu. Doktor Johan Gerhard Friedrich Riedel (1832-1911) telah membahasnya panjang-lebar tahun 1870. Sebelumnya juga di tahun 1869 dan kemudian 1871. Sementara Zendeling Nicolaas Philip Wilken (1813-1878) dari Tomohon dan Johannes Albert Traugott Schwarz (1836-1918) dari Sonder memelopori penulisannya tahun 1867 setelah mengunjungi Bolaang Uki 29 Juni 1866.

Meski demikian, sejarah dari bekas kerajaan kecil yang pernah ada di Indonesia ini tetap mengundang kontroversi dengan aneka ragam versi baik asal usul, mau pun tokoh-tokoh yang pernah memimpinnya.

Riedel tidak mencatat awal keberadaan orang Bolango yang disebutnya berkulit warna gelap dan rambut keriting. Suatu tempat di perairan Maluku menjadi pemukiman awal orang Bolango dan juga Atinggola.

Setelah waktu yang lama, tanpa penjelasan penyebabnya, mereka pindah menetap di Kaburukan, negeri yang kemudian dikenal dengan nama Kema, di pantai Minahasa Utara. Juga di Pulau Lembeh dan Tanjung Pulisan.

Namun, karena perbedaan pendapat dengan suku Tonsea, mendorong orang Bolango menjauh dari sana. Di bawah kepala bernama Intu-intu mereka menyusur sepanjang pantai utara Sulawesi, singgah di Pulau Bangka, Pulau Manado Tua, Mangatasi, sungai di Tombariri sekarang, hingga Ranoiapo di selatan Minahasa. Akhirnya tiba di muara Lombagin di wilayah Mongondo serta menetap di sisi timur sungai tersebut ¹).

Sebagian Bolango, di bawah pimpinan Dugia dan Bantong dengan para pengikutnya, melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai selatan Sulawesi. Mereka tiba di Bunongo (sekarang Kotabunan) dan Tanjung Bantong (Hungo lo Potilahu atau Tanjung Flesko). Kemudian sampai di Totoia atau Totokia (dikenal kemudian sebagai Negeri Lama), yang berada di antara Molibagu dan Gorontalo, sekitar sepuluh jam dari ibukota Gorontalo.

Karena berselisih dengan orang Mongondo, Daepeagou membawa penduduk tinggal di Mongoladia, di sekitar Molibagu. Setelah peristiwa kakaknya dengan orang Suwawa, Raja Limboto bernama Moito mendengar kecantikan kedua putri Daepeagou bernama Tanahi dan Damopinda. Ia datang dan mengawini mereka. Bersama kedua istrinya Moito kembali ke Limboto ²). Banyak orang Bolango mengikuti Moito dan istrinya, dan kemudian menetap di Tidupo

Setelah kematian Moito dan dua istrinya, orang Bolango di Tidupo diperlakukan semena-mena, sehingga timbul keinginan orang Bolango untuk kembali ke Mongoladia atau Molibagu. Tapi, di Putanga, mereka kemudian dibujuk oleh Marsaole dari Gorontalo bernama Hulubala dan Olongia (Raja) Ëiato untuk beralih ke Palangguwa ³).

Setelah lama berdiam di sini, timbul perbedaan pendapat dengan orang Gorontalo. Kepala mereka bernama Matoka membawa sebagian besar orang Bolango meninggalkan tempat itu, pergi ke Molibagu. Namun, beberapa tetua dengan keluarga mereka tetap tinggal di Palangguwa, berbaur dengan orang Gorontalo, dan memiliki eksistensi independen.

Leave a Reply