Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jadi Pelakor, Apakah Termasuk Gangguan Mental?

Setiap wanita rasanya tak ada yang menginginkan hadirnya pelakor (perebut laki orang) dalam hubungan mereka.

Tidak hanya satu, ada banyak pelakor yang mungkin sudah berhasil merusak hubungan pasangan kekasih atau bahkan pernikahan.

Apakah pelakor, apalagi jika dilakukan berkali-kali oleh orang yang sama, bisa disebut punya gangguan mental?

Setiap perbuatan pasti ada sebabnya. Begitu juga dengan pelakor yang mungkin melakukan aksi karena satu atau dua hal di masa lalunya.

Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, MPsi., perilaku merebut pasangan orang lain dapat dilandasi oleh banyak faktor. Salah satu penyebab pelakor adalah karena adanya perasaan kompetitif dengan orang lain.

“Kompetitif dalam bidang-bidang tertentu memang baik. Tapi kalau kompetitif dalam merebut pasangan orang lain, tidak boleh diikuti,” ujar Ikhsan.

“Dengan berhasil mendapatkan pasangan orang lain, rasa percaya diri sang pelaku meningkat. Dia akan merasa lebih hebat, dan merasa lebih dari segala sisi dari sang korban,” dia menambahkan.

Tak hanya itu saja, seseorang yang gemar menjadi pelakor juga mungkin membutuhkan kasih sayang yang tidak didapatkan dari orang lain. Hanya saja, pelakor memiliki kontrol diri yang rendah.

Ketika dorongan untuk memenuhi rasa kasih sayang itu ada, pelaku tidak bisa menilai norma yang ada. Pelaku juga merasa tidak bersalah karena tidak tahu norma yang baik seperti apa.

Tapi perlu diingat terlebih dahulu, tidak hanya wanita saja yang bisa menjadi pelakor. Laki-laki juga bisa melakukan hal yang sama.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam Psychology Today, laki-laki di Amerika Selatan, Asia, Afrika, dan Eropa lebih sering mencoba merebut pasangan orang lain, ketimbang wanita.

Bahkan, kondisi ini hanya dilakukan untuk kesenangan pribadi tanpa melihat perasaan orang lain.

Menanggapi pertanyaan ini, psikolog Ikhsan mengatakan bahwa tidak semua pelakor bisa dikatakan punya gangguan mental.

Leave a Reply