Petugas kebersihan yang berasal dari desa di Lombok Barat menggunakan motor bak roda tiga mengangkut sampah ke TPA. Sejak kebakaran mereka tidak bisa masuk ke TPA. (Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia)
Petugas kebersihan yang berasal dari desa di Lombok Barat menggunakan motor bak roda tiga mengangkut sampah ke TPA. Sejak kebakaran mereka tidak bisa masuk ke TPA. (Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia)

Sampah, Dampaknya ke Lingkungan, dan Melihat Program Reduksi Plastik di Negara Lain

Bagaimana dengan Indonesia? Karena merupakan negara kepulauan, negara kita adalah penyumbang terbesar kedua limbah plastik ke laut di dunia. Sampah ke laut itu hanyut melalui aliran sungai-sungai yang tercemar polutan, seperti Sungai Brantas, Bengawan Solo, Ciliwung, Citarum dan yang lain.

Pentingnya Pemahaman Publik

Tidak banyak warga yang punya pengetahuan cukup dalam memahami apa yang terjadi. Termasuk memiliki empati kepada berbagai biota yang mati akibat limbah plastik dan dampaknya bagi keseluruhan ekosistem.

Sebenarnya, Pemerintah sudah memiliki landasan untuk ini, yaitu Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.

Rencana aksi nasional penanganan sampah laut dapat dimulai dari jalur pendikan, dalam jangka panjang ia harus pula menyasar orang dewasa dan publik luas. Penanggulangan sampah di pesisir maupun laut mendesak untuk dieksekusi.

Di luar itu, perlu ada perbaikan radikal dalam menghentikan sumber asal sampah plastik. Alih-alih plastik, riset dan pengembangan harus ditujukan untuk mencari bahan yang ramah lingkungan yang tidak berasal dari bahan plastik non organik berbahan baku minyak.

Sebagai contoh, University of York dalam sebuah risetnya tentang plastik, berhasil menciptakan polyester generasi baru berbasis bahan organik (Comerford, 2018).

Aturan dan penegakan hukum yang jelas pun perlu didorong sebagai kunci dalam mencegah jutaan kantong plastik berakhir di lingkungan atau tempat pembuangan sampah.

Praktik Pengurangan Plastik di Negara Lain

Leave a Reply