Petugas kebersihan yang berasal dari desa di Lombok Barat menggunakan motor bak roda tiga mengangkut sampah ke TPA. Sejak kebakaran mereka tidak bisa masuk ke TPA. (Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia)
Petugas kebersihan yang berasal dari desa di Lombok Barat menggunakan motor bak roda tiga mengangkut sampah ke TPA. Sejak kebakaran mereka tidak bisa masuk ke TPA. (Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia)

Sampah, Dampaknya ke Lingkungan, dan Melihat Program Reduksi Plastik di Negara Lain

Dalam sebuah pertemuan internasional bertema “Kicking the Plastic Bag Addiction: A Plan for Response to Plastic Pollution” tahun 2018, teridentifikasi beberapa contoh baik negara-negara yang telah mampu move-on dari penggunaan plastik.

Contohnya Maroko. Setelah larangan sebagian pada tahun 2009, hukum di Maroko kemudian menerapkan pelarangan penuh penggunaan kantong plastik pada Juli 2016. Regulasi ini tidak hanya membatasi distribusi kantong plastik, tetapi juga impor dan produksi produk tersebut.

Denda dan sanksi pun diberlakukan, besarnya setara USD 20 – 100 ribu bagi para produsen dan distributor yang melanggar hukum. Pemerintah Maroko sebaliknya, mulai memperkenalkan bahan kantong alternatif non plastik yang mudah didapat.

Perubahan yang lebih drastis dilakukan di Kenya. Negara di Afrika Timur ini, memberi ancaman baik berupa denda hingga penjara bagi penggunaan kantong plastik sejak 2017.

Hukum setempat mengancam hingga empat tahun penjara atau denda maksimal sebesar USD 40.000 (Rp579 juta) bagi siapa pun yang memproduksi, menjual, -atau bahkan hanya sekedar membawa kantong plastik. Aturan ini sebenarnya juga untuk menyasar perilaku jorok warga di pemukiman kumuh di wilayah perkotaan.

DI kota-kota besar Kenya seperti Nairobi, masih sering dijumpai orang yang melakukan BAB di dalam kantong plastik, yang kemudian dibuang sembarangan. Selain mencemari lingkungan, perilaku ini tentu saja berdampak pada sanitasi, potensi penularan penyakit, dan ancaman bagi kesehatan masyarakat.

Setelah pemberlakuan aturan yang ketat ini, sanksi hukum ditegakkan. Seorang pedagang ayam di sebuah pasar misalnya pernah didenda setara Rp 2,1 juta karena menggunakan kantong plastik saat menjual daging ayam kepada pelanggannya. Efek jera pun dilakukan oleh pemerintah di sana.

Efektivitas penegakan hukum ini berlangsung efektif. Sejak itu penggunaan plastik di Kenya berkurang drastis. Praktik ‘toilet terbang’ (BAB di kantong plastik) menurun drastis. Warga mulai beralih menggunakan toilet umum yang ada.

Setahun setelah Kenya memberlakukan aturan ini, negara-negara tetangganya seperti Uganda, Tanzania, Burundi, dan Sudan Selatan kini mempertimbangkan untuk mengikuti langkah yang telah dilakukan Kenya.

Leave a Reply