Sasmito Madrim dan Ika Ningtyas yang terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekjen AJI Indonesia pada Kongres 11 AJI Indonesia yang diselenggarakan secara online, 27 Februari-03 Maret 2021.
Sasmito Madrim dan Ika Ningtyas yang terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekjen AJI Indonesia pada Kongres 11 AJI Indonesia yang diselenggarakan secara online, 27 Februari-03 Maret 2021.

Sasmito-Ika Pimpin AJI Indonesia Periode 2021-2024

JAKARTA, publikreport.com – Sasmito Madrim dan Ika Ningtyas terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia. Sasmito-Ika terpilih pada Kongres 11 AJI Indonesia yang diselenggarakan secara virtual, 27 Februari-03 Maret 2021. Sasmito-Ika menggantikan Abdul Manan dan Revolusi Riza yang memimpin AJI Indonesia periode 2017-2021.

Kongres yang selenggarakan secara online diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri dari peserta delegasi dan non delegasi. Dalam sesi pemilihan, Sasmito-Ika mendapat dukungan dari 119 suara, sedangkan Revolusi Riza-Dandy Koswara memperoleh 109 suara dari total 228 suara sah.

Usai disahkan sebagai Ketua Umum AJI Indonesia, Sasmito Madrim mengatakan, tantangan yang dihadapi AJI ke depan cukup besar. Mulai dari rezim yang otoriter, regulasi yang mengancam dan banyaknya kasus kekerasan terhadap jurnalis.

“Dari segi ekonomi juga kita banyak tantangan. Selain pandemi, juga ada disrupsi digital,” kata Sasmito yang merupakan jurnalis Voice of America, Selasa 02 Maret 2021, dini hari.

Pandangan senada disampaikan Ika Ningtyas, Sekjen AJI Indonesia terpilih.

“Ini amanat yang tidak mudah di tengah tantangan luar biasa ini, mulai dari multi krisis dan belum lagi dari disrupsi digital,” ucap Ika yang tercatat merupakan jurnalis Tempo.

Tantangan yang dihadapi, menurut Ika dan Sasmito, tidak akan bisa dihadapi tanpa bantuan dan kerja sama dari seluruh anggota AJI Indonesia. Tantangan yang dihadapi AJI Indonesia tercermin dari resolusi yang dihasilkan dalam Kongres XI AJI Indonesia, dalam soal kebebasan pers, profesionalisme dan kesejahteraan.

Dari aspek kebebasan pers, resolusi kongres menggarisbawahi sejumlah kebijakan yang mengancam kebebasan pers dari regulasi seperti KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) dan Undang Undang (UU) Informasi Elektronik. Dalam soal kesejahteraan, salah satu tantangannya adalah bagaimana pemerintah memperkuat implementasi regulasi dan memonitoring kepatuhannya di perusahaan media.

Dalam Kongres XI ini, ada sejumlah perubahan kebijakan yang dihasilkan. Salah satunya dimasukkannya klausul kasus kekerasan seksual sebagai kategori pelanggaran berat. Pasal soal kekerasan seksual juga dimasukkan dalam Kode Perilaku Anggota AJI Indonesia. Berbeda dengan ketentuan di Anggaran Rumah Tangga (ART) AJI Indonesia, kasusnya diperiksa dengan Kode Perilaku jika ada unsur pengaruh profesinya sebagai jurnalis dari kekerasan tersebut.

Diketahui, AJI Indonesia adalah organisasi jurnalis yang misinya memperjuangkan kebebasan pers, meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis. AJI menjadi anggota sejumlah organisasi di tingkat global, antaranya International Federation of Journalists (IFJ), berkantor pusat di Brussels, Belgia; International Freedom of Expression Exchange (IFEX), berkantor pusat di Toronto, Kanada; Global Investigative Journalism Network (GIJN), berkantor pusat di Maryland, AS; Forum Asia, jaringan Hak Asasi Manusia (HAM) berkantor pusat di Bangkok, Thailand dan South East Asian Press Alliance (SEAPA), yang bermarkas di Bangkok, Thailand. | DORANG

Leave a Reply