GPdI Victory Raringis, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulut.
GPdI Victory Raringis, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulut.

Meity Sedih Ada Oknum Gembala Polisikan Jemaatnya Sendiri

TONDANO, publikreport.com – Meity Ratar, salah satu anak kandung Almarhum Pendeta Eddy Ratar STh (Sarjana Theologia) mengaku sedih dengan adanya anggota Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Victory Raringis, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang harus berurusan dengan pihak kepolisian. Sejumlah anggota jemaat itu, menurut Meity, telah dilaporkan oknum gembala ke Kepolisian Resort (Polres) Minahasa dalam kasus dugaan penggelapan dana duka atas meninggalnya Pendeta Eddy Ratar STh.

“Kami kakak beradik sedih dengan kejadian ini. Kenapa jemaat yang seharusnya dilindungi, apalagi sedang berjuang membantu keluarga berduka harus dilapor dan menderita seperti ini,” ungkap Meity Ratar.

Dalam tahapan mediasi di ruang Tipidter (Tindak Pidana Tertentu) Polres Minahasa, Rabu 10 Maret 2021, Meity mengatakan, terungkap pelapor Norce Moniung menerima kuasa dari ibu NS alias Nor.

“Pelapor yang bernama Norce Moniung ternyata diberi kuasa oleh ibu NS alias Nor untuk melaporkan dugaan penggelapan dana duka yang diberikan para pelayat saat pemakaman almarhum papi saya, Eddy Ratar, pada 06 Pebruari 2021, lalu. Itu disampaikan sendiri oleh ibu Norce Moniung dan tante NS pada mediasi tadi. Jadi sudah jelas, bahwa pelapor adalah ibu NS,” jelas Meity.

Tindakan yang dilakukan NS, Meity mengatakan, tidak bisa dicampurinya. Namun, dirinya tidak setuju, jika para terlapor yang adalah jemaat sendiri harus diadukan ke pihak kepolisian.

“Tante NS, sah sebagai pelapor. Karena dia berhak untuk mendapatkan dana duka yang berjumlah Rp8 juta lebih itu,” ucapnya.

Mengenai siapa sebenarnya pelapor atas kasus tersebut, juga dijelaskan salah satu anggota Jemaat GPdI Victory Raringis, Maudy Tunas yang hadir pada tahapan mediasi di Mapolres Minahasa.

“Ya benar. Tadi sudah terungkap langsung dari ibu Norce Moniung dan ibu Gembala NS, bahwa pelapor memang atas nama Norce Moniung, tapi dia diberi kuasa oleh ibu Gembala NS untuk melapor ke kepolisian,” kata Maudy saat dihubungi lewat telepon.

Sesuai laporan kepolisian nomor: LP/67/II/2021/Sulut/Resmin tertanggal 17 Pebruari 2021, kasus tersebut berawal adanya dana duka (pengganti karangan bunga) pemberian para pelayat. Dana duka itu berjumlah Rp8.310.000, kemudian digunakan panitia pembangunan jemaat/panitia duka untuk membiayai semua yang terkait dengan kedukaan atas meninggalnya Pendeta Eddy Ratar STh. NS, ister almarhum diduga kecewa lalu melaporkannya ke Polres Minahasa.

Leave a Reply