Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri.
Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri.

Kapolri: Kelompok Ali Kalora Terus Diburu

Menurut catatan mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Ansyaad Mbai, orang-orang yang mengikuti pelatihan militer tercerai-berai pada akhirnya mendirikan sel-sel sendiri, salah satunya di Poso. Pada Oktober 2009, Abu Tholut datang ke Poso untuk bertemu dengan Ustadz Yasin dan Santoso. Abu Tholut kemudian menjelaskan rencana Proyek Uhud, yaitu menjadikan Poso sebagai qoidah aminah Negara Islam. Abu Tholut juga mengusulkan berdirinya JAT Poso, sebagai cikal bakal tanzim jihad Negara Islam di sana. Santoso kemudian diangkat menjadi ketua Asykariy atau sayap militer JAT Cabang Poso, yang diketuai oleh Ustadz Yasin.

Santoso merealisasikan proyek itu dengan merekrut peserta untuk dilatih secara militer. Pada 2010, Santoso dan rekan-rekannya berhasil mengumpulkan senjata dan menemukan tempat pelatihan militer di Gunung Mauro, Tambarana, Poso Pesisir Utara, serta di daerah Gunung Biru, Tamanjeka, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Gerakan MIT mendapatkan dukungan dari kelompok terduga teroris lain yang terhubung dalam jaringan mereka. Seperti kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB) pimpinan Abu Roban, sebuah sel yang berperan untuk mendapatkan dana/kekayaan melalui perampokan (fa’i) di berbagai daerah di Jawa Tengah (Jateng), Jawa Barat (Jabar) dan Jakarta.

Pada 2012, Santoso diangkat menjadi Amir, atau pemimpin Mujahidin Indonesia Timur.

Kelompok ini mendapat perhatian internasional setelah mereka membunuh dua orang polisi. Pada 16 Oktober 2012, dua orang polisi, Briptu (Brigadir Satu) Andi Sapa dan Brigadir Sudirman, ditemukan tewas di Dusun Tamanjeka, Desa Masani. Mayat keduanya ditemukan setelah dinyatakan hilang sepekan sebelumnya. Keduanya dikubur dalam satu lubang. Polri menyatakan bahwa pelaku dari pembunuhan ini adalah kelompok Santoso.

Pada 20 Desember 2012, tiga anggota Brimob (Brigade Mobile) tewas setelah ditembak dari belakang saat patroli di Desa Kalora, Poso Pesisir Utara. Mereka bertiga tewas karena luka tembak yang parah, yang pertama Briptu Ruslan, kemudian Briptu Winarto dan Briptu Wayan Putu Ariawan. Mereka mengalami luka tembak di bagian kepala dan dada.

Pada awal tahun 2015, kelompok MIT membunuh tiga warga di Desa Tangkura. Mereka semua tewas dalam kondisi yang mengenaskan, yakni Dolfi Moudi Alipa (22) yang tewas akibat tiga luka tembak pada bagian kepala, dada kiri dan perut. Korban tewas kedua bernama Aditya Tetembu (58), dan korban tewas ketiga yaitu Hery Tobio (55).

Pada 18 Juli 2016, Satgas (Satuan Tugas) Operasi Tinombala telah menembak mati pemimpin MIT Santoso bersama dengan salah satu pengikutnya, Mukhtar.

14 September 2016, Basri, tangan kanan serta orang kepercayaan Santoso, ditangkap bersama istrinya oleh Satgas Operasi Tinombala di Desa Tangkura, Pada hari yang sama, Andika Eka Putra tewas dan beberapa hari kemudian, Sobron juga tewas.

10 November 2016, Yono Sayur tewas setelah kontak tembak dengan pasukan gabungan.

Mantan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Luhut Binsar Panjaitan menyebut kelompok Santoso tidak solid lagi. Menurutnya, MIT kini terpecah jadi tiga kelompok/faksi.

Juru Bicara Humas Polri Kombes Rikwanto (ketika itu) membenarkan isu yang menyebutkan perpecahan kelompok Santoso. Menurut dia, ada beberapa alasan yang menyebabkan kelompok teroris pimpinan Santoso ini terpecah. Satu di antaranya adalah istri Santoso.

“Di antaranya ada istri Santoso yang diperlakukan khusus, menurut mereka. Padahal mereka sedang berjuang, tapi satu sisi disuruh mengamankan keluarga Santoso. Ini yang tidak diterima mereka.”

Informasi ini, menurut Rikwanto didapat setelah Tim Satgas Tinombala menangkap dua anak buah Santoso berinisial IN dan IB. Dari informasi yang didapat pihak kepolisian, penyebab lain perpecahan kelompok MIT adalah mulai menipisnya ketersediaan logistik untuk bertahan hidup. Belum lagi, Tim Satgas juga terus mempersempit ruang gerak kelompok MIT.

Leave a Reply