Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri.
Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri.

Kapolri: Kelompok Ali Kalora Terus Diburu

Awalnya, total DPO berjumlah 21 orang dan terbagi 2 kelompok yang beranggotakan 5 dan 16 orang. Mereka terbagi atas:

Faksi Santoso-Basri

Faksi ini merupakan faksi utama di kelompok Mujahidin Indonesia Timur. Faksi ini terdiri dari lima orang yang cukup memiliki peran penting di dalam MIT. Lima orang itu adalah Santoso, Jamiatun Muslim alias Umi Delima (istri Santoso), Basri, Nurmi Usman alias Oma (istri Basri), dan Mukhtar.

Pada 18 Juli 2016, kontak tembak terjadi di pegunungan sekitar Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, sekitar pukul 17.00 WITA. Dalam baku tembak yang berlangsung sekitar setengah jam itu, dua orang tewas, dan mereka adalah Santoso dan Mukhtar.

Basri yang awalnya diperkirakan tewas (belakangan ternyata Mukhtar), berhasil kabur. Kepala Satgas Operasi Tinombala Kombes Leo Bona Lubis mengungkapkan, kepastian Santoso tewas diperoleh dari hasil identifikasi fisik luar dan dari keterangan saksi-saksi.

“Saya selaku kepala operasi menyatakan bahwa hasil kontak tembak, salah satu (korban tewas) adalah DPO yang selama ini dicari, yaitu gembong teroris Santoso dan Mukhtar yang masuk dalam daftar pencarian orang.”

Penyerbuan terhadap kelompok Santoso dilakukan sekitar pukul 16.00 WITA oleh anggota Satgas Bersandi Alfa-29 yang terdiri atas sembilan orang Prajurit Yonif (Batalyon) Raider 515/Kostrad (Komando Strategis Angkatan Darat). Saat melaksanakan patroli di pegunungan Desa Tambarana, mereka menemukan sebuah gubuk dan melihat beberapa orang tidak dikenal sedang mengambil sayur dan ubi untuk menutup jejak.

Mereka juga menemukan jejak di sungai dan terlihat tiga orang di sebelah sungai, namun langsung menghilang. Tim Satgas ini kemudian berupaya mendekati orang-orang tak dikenal itu dengan senyap. Setelah berada dalam jarak sekitar 30 meter, mereka kemudian terlibat kontak senjata sekitar 30 menit. Setelah dilakukan penyisiran seusai baku tembak, ditemukan dua jenazah dan sepucuk senjata api laras panjang. Sedangkan tiga orang lainnya berhasil kabur.

Dua jenazah, yakni Santoso dan Mukhtar, kemudian dievakuasi pada Selasa pagi ke Polsek Tambarana, Poso Pesisir Utara. Hanya beberapa menit di Polsek Tambarana, jenazah kedua buronan dalam kasus terorisme itu diterbangkan dengan sebuah helikopter menuju Bandar Udara (BAndara) Mutiara SIS Al-Jufrie Palu.

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan, prajurit dari Batalyon Raider 515 Kostrad berangkat sejak 13 hari sebelumnya untuk memburu kelompok Santoso. Mereka membutuhkan waktu tiga hari untuk menempuh jarak sekitar 11 kilometer ke tempat persembunyian Santoso. Sementara untuk sampai ke titik penyergapan membutuhkan waktu selama delapan hari. Atas kesuksesan operasi itu, seluruh aparat yang terlibat dalam Satgas Tinombala akan mendapat kenaikan pangkat luar biasa.

Pada 14 September 2016, Basri bersama istrinya ditangkap Satgas Operasi Tinombala, sehingga membuat faksi ini sudah tidak ada lagi atau dibubarkan.

Faksi Ali Kalora

Faksi ini merupakan faksi pecahan di kelompok Mujahidin Indonesia Timur. Faksi ini terdiri dari 16 orang yang kebanyakan di antara mereka adalah bawahan Santoso. Faksi ini dipimpin Ali Kalora dan istrinya, Tini Susantika alias Umi Farel.

Faksi ini merupakan faksi yang sering terlibat kontak tembak dengan Satgas Operasi Tinombala. Sebelum baku tembak terakhir, sedikitnya ada 10 DPO yang telah berhasil ditangkap atau tewas dalam baku tembak. Mereka adalah Germanto alias Rudi atau Husain, Agus Suryanto Farhan alias Ayun, Udin Malino alias Rambo, Ponda alias Dodo, Bahtusan Magalazi alias Farouk, Sadik Torulmaz alias Abdul Aziz, Thuram Ismali alias Joko, Nuretin Gundogdu alias Abdul Malik (keempatnya dari Uighur), Ahmad Madura, dan Anto alias Tiger atau Yuda.

Pada September-November 2016, Andika Eka Putra, Sobron, dan Yono Sayur tewas setelah kontak tembak dengan pasukan gabungan. | ALFIAN TEDDY/WIKIPEDIAorg

Leave a Reply