You are currently viewing AMSI Luncurkan Crisis Center Covid

AMSI Luncurkan Crisis Center Covid

Sani Budiantini Hermawan menambahkan menjaga kesehatan mental pekerja media perlu sebagai upaya pencegahan atau terapi untuk pasien Covid19.

“Jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan rasa tidak sanggup menghadapi kondisi ini,” tuturnya, seraya mengatakan, menjaga kesehatan mental dapat dilakukan oleh profesional atau orang-orang di lingkungannya dengan teknik yang baik.

Widjanarko Brotosaputro mengingatkan tentang konsumsi obat-obat perlu dilakukan

dengan hati-hati sesuai dengan petunjuk dokter dan kondisi pasien.

“Termasuk mengkonsumsi vitamin tidak boleh berlebihan, perlu konsultasi dengan dokter atau apoteker. Jangan sampai karena takut Covid-1 kemudian mengkonsumsi obat-obat atau vitamin tanpa memperhatikan peruntukannya atau minum di luar takaran dosis. Apalagi jika mengkonsumsi antibiotik atau antivirus perlu hati-hati,” pesannya.

Lia G Partakusuma menyampaikan kehadiran komunitas dalam penanganan Covid-19 sangat diperlukan.

“Karena kita tidak bisa sendirian,” ujarnya.

Saat ini, Lia melanjutkan, dari 3.084 rumah sakit, 989 rumah sakit ditunjuk menjadi rumah sakit rujukan Covid-19. Saat ini penambahan tempat tidur dari bulan Mei hingga 25 Juli telah naik tiga kali lipat menjadi 127.045 tempat tidur.

“Tapi penambahan fasilitas (ruang isolasi khusus pasien Covid-19), tidak bisa naik cepat sejumlah tempat tidur,” ungkapnya.

Jumlah keterisian tempat tidur, Lia menuturkan, mulai naik di berbagai tempat. Karena pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi berat dan kritis.

“Penting bantuan dari komunitas untuk menekan melalui edukasi 3M untuk memutuskan rantai penularan. AMSI Crisis Center Covid-19 sangat penting,” tegasnya.

AMSI Crisis Center Covid-19, tambah Upi Asmaradhana melibatkan pengurus AMSI pusat dan daerah, serta para ahli di bidangnya masing-masing seperti dokter, psikolog, agamawan dan lain-lain. | DORANG

Leave a Reply