Sejumlah aktivis dari berbagai lembaga usai launching dan nonton bareng film dokumenter Sangihe Not For Sale di Sekretariat AMSI Sulut, Selasa 17 Agustus 2021.
Sejumlah aktivis dari berbagai lembaga usai launching dan nonton bareng film dokumenter Sangihe Not For Sale di Sekretariat AMSI Sulut, Selasa 17 Agustus 2021.

Sangihe Not For Sale, Film Perlawanan Masyarakat dan Aktivis

Penolakan terhadap perusahaan tambang di Sangihe.

MANADO, PUBLIKREPORTcom – Sejumlah lembaga, seperti Gerakan Cinta Damai Sulut (GCDS), Save Sangihe Island (SSI), Yayasan Suara Nurani Minaesa (YSNM), Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Utara (Sulut), digandeng Audro Chrustofel dan teman-temannya dari Sangihe Documentary Film, untuk melaunching secara film berjudul Sangihe Not For Sale.

Launching sekaligus nonton bareng dilakukan pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76, 17 Agustus 2021, bertempat di Sekretariat AMSI Sulut.

“Film ini berdurasi satu jam lebih dengan pengambilan gambar hanya menggunakan handphone. Ini film dokumenter ketiga yang dibuat Sangihe Documentery Film,” jelas Audro Chrustofel dalam diskusi sebelum pemutaran film.

Launching film tersebut, Audro mengungkapkan, sebenarnya direncanakan akan dilaksanakan secara offline di Sangihe, pada Minggu 15 Agustus 2021. Namun, karena tidak diijinkan pihak berwajib dengan alasan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sehingga ditunda. Hingga akhirnya terlaksana pada Selasa 17 Agustus 2021.

Film Sangihe Not For Sale, menurut Audro, memotret kondisi terkini masyarakat Sangihe melawan perusahan tambang emas PT Tambang Mas Sangihe (TMS).

“Saya ‘bangunkan’ teman-teman saya, kalian jangan tidur lama, mari cepat ‘bangun’, karena daerah kita akan rusak dengan perusahan tambang. Namanya perusahan tambang pasti akan merusak tatanan hidup masyarakat dan melahirkan berbagai hal negatif lainnya,” ujar Audro, alumni Intitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Di tempat yang sama, Jull Takaliuang dari Save Sangihe Island (SSI), mengaku sangat mengapresiasi semangat Audro Cs yang telah membuat Film Sangihe Not For Sale.

“Perjuangan kami butuh energi yang panjang dan cara-cara kreatif dalam melakukan perlawanan terhadap perusahan tambang yang punya duit besar. Salut Sangihe Documentery Film yang berjuang keras melahirkan film ini,” ucapnya.

Film ini, Jull mengatakan, nantinya akan menjadi media edukasi ketika turun menemui masyarakat di kampung-kampung.

“Kita akan terus menggelorakan perjuangan bersama, sehingga sejengkal pun tanah kita tidak direbut oleh perusahan tambang yang merugikan masyarakat kita sendiri,” tegasnya.

Leave a Reply