Irene Liu, News Lab Lead Google Asia Pacific (APAC) dan Irfan Djunaidi, Wakil Ketua II AMSI pada pembukaan Training Literasi Media untuk publik di Kalbar, Rabu 01 September 2021.
Irene Liu, News Lab Lead Google Asia Pacific (APAC) dan Irfan Djunaidi, Wakil Ketua II AMSI pada pembukaan Training Literasi Media untuk publik di Kalbar, Rabu 01 September 2021.

AMSI-Google News Initiative Selenggarakan Training Literasi Berita bagi Publik di 10 Wilayah

JAKARTA, PUBLIKREPORTcom – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dengan dukungan Google News Initiative dan Cek Fakta menyelenggarakan Training Literasi Berita (News Literacy) bagi publik, mahasiswa, akademisi, dan jurnalis. Training ini diselenggarakan di 10 wilayah, yakni Kalimantan Barat, Aceh, Maluku-Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua-Papua Barat.

“Pelatihan dilaksanakan dengan harapan peserta dapat mengidentifikasi informasi berdasarkan fakta dan yang tidak sesuai fakta. Sebab, saat ini kondisi memang tidak mudah, karena banyak berita atau informasi yang bercampur (fakta dan bukan fakta) dengan tujuan tertentu,” kata Wakil Ketua II AMSI, Irfan Djunaidi, pada pembukaan training literasi berita untuk publik di Kalimantan Barat, Rabu 01 September 2021.

Peserta dari pelatihan yang diselenggarakan secara daring (dalam jaringan) ini, Irfan berharap, ke depan dapat terlibat dalam gerakan melawan informasi bohong (hoaks).

“Kemampuan memverifikasi informasi yang benar sangat bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu diharapkan peserta dapat terlibat menahan laju sebaran hoaks atau informasi bohong, yang saat ini dampaknya cukup besar, dan merusak sendi-sendi sosial, bahkan mempengaruhi kebijakan,” jelasnya.

Pentingnya keterlibatan semua pihak melawan mis-informasi, dijelaskan Irene Liu, News Lab Lead Google Asia Pacific (APAC). Dirinya berharap pelatihan ini dapat membantu masyarakat mengidentifikasi informasi tersebut benar berdasarkan fakta atau hanya fiksi.

“Terlebih di era pandemi ini, jika kita tidak dapat membedakan antara informasi yang benar dan fiksi, itu bisa menjadi masalah hidup dan mati. Apalagi informasi tersebut adalah informasi penting yang akan menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan penting bagi keluarga yang mereka cintai,” ujarnya.

Untuk menyelenggarakan pelatihan ini, sebelumnya AMSI telah mentraining 20 jurnalis dari berbagai media anggota AMSI sebagai Trainer Literasi Berita. Pada training literasi media bagi publik ini, AMSI mengadopsi kurikulum yang dirumuskan oleh Masato Kajimoto, Associate Professor di University of Hong Kong.

Melalui video pengantar, saat pembukaan training yang diikuti lebih dari 30 peserta ini, pendiri Asian Network of News and Information Educators (ANNIE) tersebut mengatakan kurikulum ini lebih dari sekedar materi membongkar fakta.

“Kurikulum ini juga membahas hal lain yang merupakan bagian dari literasi berita,” ucapnya.

Materi yang akan diterima peserta di antaranya dampak media sosial (medsos) terhadap pemahaman publik pada informasi, mewaspadai efek makna ganda pada efek visual atau foto berita dan lain-lain. Peserta akan menerima tujuh materi terkait literasi berita.

Hingga akhir September, AMSI menargetkan setidaknya 300 orang dari berbagai unsur mendapatkan pemahaman terkait isu ini. | DORANG

Leave a Reply