Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah. Nampak kompleks persekolahan SLB ‘Damai’. (foto: dok publikreport.com)
Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah. Nampak kompleks persekolahan SLB ‘Damai’. (foto: dok publikreport.com)

Sejarah Talete

Talete 1 dan 2

Talete 1 dan 2 sebelumnya berstatus desa kini kelurahan. Kelurahan Talete 1 dan 2 berada di Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Bagaimana Sejarah Talete (1 dan 2)? Dikutib dari Naskah ‘Riwayatmu Tomohon’, yang ditulis Adrianus Kojongian, disebutkan Talete telah ada sejak jaman purba Minahasa. Dimulai dari Kuranga (kini masuk Talete 2).

Konon dinamai Kuranga, karena tempat itu ketika dibuka banyak ditumbuhi kembang sepatu atau bunga raya berwarna merah (latin, hibiscus rosasinensis). Di masa purba itu, dituturkan legenda-legenda, Kuranga pernah didiami Dotu Wawo Kumiwel dengan isterinya Wawu Pahiringan, dan Dotu Lololing dengan isterinya Wawu Winerotan.

Tapi, pemukiman di Kuranga tidak lestari, karena ditinggalkan dengan berbagai alasan, seperti gempa bumi, penghidupan masyarakat Minahasa pertama yang selalu berpindah-pindah tempat, atau mewabahnya macam-macam penyakit. Baru setelah pembagian di Watu Pinawetengan, Talete muncul sebagai salah satu pemukiman besar di Tomohon. Pemukiman Talete baru ini berada di seputaran mataair Sineleyan, Limondok dan Pinati.

Penamaan Talete diperkirakan mulai dipakai sejak saat itu. Asalnya dari kata Timete atau Taletena, yang berarti puncak atau bubungan (atap) rumah.

Dalam laporan Gubernur Hindia Belanda di Ternate, Robertus Padtbrugge tahun 1678, Talete ditulisnya Tontalete, dan berpenduduk sebanyak 70 awu (kepala keluarga). Jumlahnya sama banyak dengan penduduk seluruh Tonsea, juga Sarongsong, Tompaso dan Bantik.

Talete yang digambarkannya merupakan negeri berpindah dari kota Walak Tomohon, dipimpin berturut-turut oleh Dotu Lewlew (Leilei) yang dalam mitos disebut sebagai wanita penguasa Sineleyan dan dikuburnya dipercayai berada di Talete 1 kini.

Kemudian di masa Hukum Mayoor Kepala Paat Kolano menjadi Kepala Walak Tomohon dan anaknya, Manengkeimuri, masing-masing sebagai anak dan cucu Lewlew, menjadi Hukum Talete adalah Mamuaja yang menyunting Liwun putri Paat.

Talete di tahun 1970-an dipimpin Hukum Posumah yang melakukan perlawanan terhadap Residen Manado, JD Schierstein dan George Frederick Durr, karena kewajiban penduduk harus menyetorkan beras. Masanya diperkirakan penduduk Talete banyak yang lari bersembunyi di hutan dan wilayah perkebunan.

Seusai perang Minahasa di Tondano 1808-1809, penduduk Talete yang berceraian dikumpulkan di kota Walak Tomohon (kini Nimawanua atau Umanua, masuk Kolongan).

Di dekade 1820-an, Lukas Wenas menjadi pemimpin masyarakat Talete di Nimawanua menggantikan pamannya Posumah, adik ibunya. Lukas Wenas menjadi masyur dan karena berwibawa dan disegani, sebab dapat menghimpun penduduk yang tercerai-berai dan menenangkan mereka.

Dibawah pimpinannya, tahun 1831, penduduk Talete pulang ke pemukimannya dari Nimawanua, setelah dianjurkan Belanda dan Kepala Walak Tomohon, Mangangantung.

Leave a Reply