Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah. Nampak kompleks persekolahan SLB ‘Damai’. (foto: dok publikreport.com)
Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah. Nampak kompleks persekolahan SLB ‘Damai’. (foto: dok publikreport.com)

Sejarah Talete

Negeri Talete baru dibangun Lukas Wenas dekat mataair Sineleyan di lereng Limondok. Peran dari matair Sineleyan di masa itu sangat penting, terutama untuk keperluan air minum, memasak dan cuci-mandi. Mataairnya tidak pernah mengering sepanjang waktu, meski terjadi musim kemarau panjang.

Lukas Wenas menjadi Hukum Tua (Hoofd) Negeri Talete yang pertama, dari tahun 1831-1851. Di masanya Talete berpenduduk 50 kepala keluarga, kurang lebih 240 jiwa, mendiami sebelah selatan dari Sineleyan. Ketika itu pula pada tanggal 08 Februari 1845, terjadi gempa bumi hebat yang membuat penduduk ketakutan dan lari kocar-kacir mengungsi.

Berkat usaha Lukas Wenas, penduduk dapat ditenangkan. Rumah-rumah dibuat bergeser di pinggir jalan ‘raya’, yang mulai dibangun pemerintah. Rumah-rumah model yang tinggi, yang tersebar luas di Negeri Tomohon, berdasar usulan bersama penginjil, JFG Riedel dan JG Schwarz, dan anjuran para residen Van Olpen, Scherius dan Andriessen, mulai ditinggalkan. Mereka menganjurkan rumah berukuran lebih kecil, dan memerintahkan negeri-negeri didirikan secara teratur.

Residen Jansen yang paling banyak memberi perhatian dan pemeliharaan. Ia keluarkan peraturan-peraturan tetap dan nasihat-nasihat kepada rakyat didukung kepala-kepala. Perbaikan Negeri Talete dilakukan, berupa pembagiannya, penanaman serta pemagaran pekarangan rumah dan pembuatan jalan-jalan yang rapi dan bagus untuk lalu lintas gerobak.

Karena jasa-jasa dan pengabdiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda, dan karena darah keturunan hulubalang dalam diri leluhurnya, Lukas Wenas kemudian ditunjuk menjadi Hukum Kedua Tomohon, dari tahun 1853-1862, sebagai pembantu Mayoor Tomohon, Roland Ngantung Palar, kemenakannya, yang menjadi pengganti ayahnya, Ngantung Palar. Juga ia jadi pembantu utama dari pengganti Roland Ngantung, yakni Mayoor Posumah, yang juga masih pamannya.

Sebagai Hukum Kedua Tomohon, ia membantu Kepala Distrik Pertama, memimpin negeri-negeri: Talete, Kamasi, Paslaten, Kolongan dan Matani. Jenjangnya lalu naik sebagai Hukum Besar Kepala Distrik Pertama.

Ketika Lukas Wenas diangkat menjadi Hukum Kedua Tomohon, tahun 1853, yang ditunjk sebagai penggantinya menduduki posisi Hukum Tua Talete adalah Posumah, sepupunya, putra Mayoor Posumah dengan Kamangki.

Setelah Posumah dipindah ke Walantakan, yang mengganti adalah Emor Rampengan, seorang pembantu dekat Lukas Wenas. Kemudian sebagai Hukum Tua, Lukas Wenas mengangkat anaknya bernama, Johanis Wenas, yang lalu diganti adik tirinya Alexander Wenas.

Di masanya Talete yang menjadi salah satu dari 5 negeri yang membentuk kota Tomohon, menurut Graafland, berpenduduk 635 jiwa, kedua terbanyak penduduk di Tomohon, setelah Matani dengan 766 jiwa.

Alexander Wenas diganti Alexander Wajong yang memimpin hingga meninggal dunia, 1870, lalu Johanis Wenas (ulang),1870-1895. Penduduk Talete seluruhnya telah menganut agama Kristen berkat usaha-usaha Penolong Injil, Cornelius Wohon sejak tahun 1861. Wohon diambil menantu oleh Lukas Wenas, dikawinkan dengan anak tertuanya bernama Elisabeth Wenas.

Di masa Johanis, bagian sebelah utara Talete turut berkembang, terutama ketika Kweekschool (yang kelak jadi SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Kristen, sebelum dihapus), dipindah dari Tanawangko ke Kuranga pada 01 Februari 1886, dengan dipimpin HC Kruyt. Letak Kuranga yang strategis, indah serta masih kosong, memungkinkan sekolah guru rendah itu maju, sehingga Kuranga menjadi terkenal di Minahasa, bahkan di seluruh Indonesia, sebagai salah satu Pusat Pendidikan Agama Kristen dan guru yang bermutu.

Hukum Tua Talete berikutnya adalah, Willem Montolalu, menjabat dari tahun 1893-1904, lalu Dirk Wenas, anak mantan Hukum Tua Johanis mengganti dan memegang selang 1904-1934, selama 30 tahun, dan termasuk salah satu Hukum Tua disegani di Tomohon.

Leave a Reply