Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah. Nampak kompleks persekolahan SLB ‘Damai’. (foto: dok publikreport.com)
Telaga Sineleyan di Talete, Tomohon Tengah. Nampak kompleks persekolahan SLB ‘Damai’. (foto: dok publikreport.com)

Sejarah Talete

Dirk Wenas diganti Jusop Mait yang memerintah hingga Jepang masuk pada tahun 1942. Pensiunan Sersan KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) ini sebelumnya telah dua kali mencalonkan diri menjadi Hukum Tua di Kolongan, tapi gagal. Mait digelari Sersan Seratus Lima, karena gajinya sebanyak 195 gulden (rupiah), sedangkan beras sekarung hanya 6 gulden.

Jago anggar itu ditangkap oleh Jepang di kebun lalu dibunuh. Jusop Mait dituduh menjadi antek Belanda dan ke-blandablandaan. Anaknya bernama, Hendrik Mait, seorang KNIL, pula mengalami nasib serupa, dieksekusi Jepang di Kuranga, sedang anak lainnya bernasib mujur, selamat karena masih kecil.

Makte Tular, bekas KNIL mengganti Jusop Mait, tapi kepejabatannya hanya selama 10 hari saja. Oleh Jepang ditunjuk penggantinya sebagai Sonco (sebutan Hukum Tua) adalah Pangkerego Pongoh, bekas Sersan KNIL, yang memimpin Talete dari tahun 1942-1945.

Berturut-turut Hukum Tua Talete adalah: Erenst A Pioh, 1945-1950, Experius Wajong, 11 Juli 1950-04 April 1963, Pejabat Erenst Pioh, selama 10 bulan, Frederik W Pangemanan, 30 April 1963-09 Maret 1971, Erenst A Pioh, 18 September 1970-13 September 1975, dan

Samuel D Turang, sampai Talete dimekarkan Februari 1978. Sampai tahun 1978, ditunjuk Pejabat Hukum Tua, Petrus Turang.

Talete yang kian padat dimekarkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Provinsi Sulut Nomor 230 Tahun 1977 tanggal 12 Desember 1977, menjadi dua desa, yakni Talete 1 dan Talete 2 di bagian utaranya.

Samuel Turang ditunjuk memimpin Talete 1, lalu sebagai Lurah pertama ketika status Talete menjadi Kelurahan pada 01 Januari 1981. Ia diganti pejabat Simon R Taroreh yang di tahun 1973 sempat jadi Pejabat Hukum Tua Talete. Kemudian pada 03 Desember 1983, ditunjuk lurah baru Talete 1, Simon Butje Wangkai. Ia memimpin Talete 1 selama lebih dari 20 tahun, dan pada Agustus 2002 diganti Eddy Turang.

Sedangkan Desa Talete 2 yang menjadi kompleks persekolahan GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa) utama dengan asrama-asrama siswa/mahasiswa, sejak pemekaran tahun 1978, dipimpin oleh Dirk Wuisan, diganti Jus H Londok, lalu sejak 24 April 1984, Bernadus Anes.

Lurah Talete 1 dan 2, silih berganti hingga kini. Apalagi Tomohon telah menyandang status Kota Otonom, sejak mekar (pisah) dari Kabupaten Minahasa pada tahun 2003.

Sejak tahun 1970-an, wilayah Kuranga menjadi pusat pemerintahan, ketika Kantor Camat Tomohon dibangun disitu, lalu kelak menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Tomohon Tengah sejak 2004. | REDAKSI


LATEST POST

Leave a Reply