Wilayah Lahendong, Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Provinis Sulut. (foto: screenshot google maps)
Wilayah Lahendong, Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Provinis Sulut. (foto: screenshot google maps)

Sejarah Lahendong

Negeri Lahendong, sebelumnya berstatus desa kini kelurahan berada di ujung selatan Kota Tomohon, berbatasan dengan Desa Leilem, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, terkenal dengan Danau Linouw dan tempat permandian air panas belerang.

Berikut sejarah Lahendong, sebagaimana dikutib dari Naskah ‘Riwayatmu Tomohon’ yang ditulis Adrianus Kojongian. Lahendong semula masih terdiri dari hutan rimba lebat, terletak di sebelah barat lereng Bukit Toulangkow (Talangkow) yang segugus dengan Bukit Lengkoan dan Tampusu. Di jaman purban pernah datang berdiam di sini, Dotu Siow Kurur, konon dia bermukim di atas pohon, lalu kemudian Dotu Repi, Lumolinding, Telew (terbang) dan seorang wanita bernama Makalinow (nama Linow dikisahkan berasal dari wanita yang konon menghilang di danau yang ada di sana. Tapi, menurut Graafland, mungkin kata Linow, berasal dari Leno yang berarti jernih atau terang).

Dotu Telew disebut juga Sumariei (Sumaliei, Sumaringsing), dipercayai menjadi penguasa Danau Linow dan Bukit Toulangkow. Menurut penuturan, ia kadang kala menimbulkan angin memusing yang membingungkan di danau atau menyesatkan para pengembara. Sementara Makalinow, adalah isterinya.

Para dotu ini berdiam di tempat yang disebut Ranolahendong, di sekitar sungai kecil Lahendong yang bermuara di Danau Linow. Sungai Lahendong sepanjang kurang lebih 5,25 kilometer, disebut pula Sungai Ranorangdang (Zanorangdang), karena airnya yang berwarna merah.

Setelah ditinggalkan, pada pertengahan tahun 1600-an dikisahkan ketika terjadi perang pengusiran orang Spanyol dari Minahasa, telah terjadi pembantaian terhadap pelarian Spanyol yang terjebak oleh garis gaib yang dibuat para Teterusan Minahasa, pimpinan Sela dan Seke. Menurut HM Taulu, mereka dibunuh, lalu mayatnya dibuang ke sungai yang mengakibatkan timbulnya nama Ranorangdang.

Barulah di tahun 1750, di masa Mayoor Tongkotou, datang dari Sarongsong-Tulau (Wanua Ure) seorang petani bernama, Mokalu Rondonuwu (keturunan Kepala Walak Sarongsong, Mayoor Rondonuwu Lontoh); dengan berjalan kaki, sejauh kurang lebih 5 km, bermaksud merombak hutan untuk digarapnya. Diketahuinya bahwa tempat yang berhawa dingin dan berbau belerang itu subur sekali, terkecuali lokasi yang mengandung fumarola dan air panas.

Kebun dibukanya di tempat bernama Kakalutayen, dekat Sungai Ranoraindang. Sebab kebunnya subur dan di sekitar Kakalutayen sumber pangan berkelimpahan, dan binatang buruan banyak; maka Mokalu Rondonuwu kembali ke Sarongsong dan mengajak saudara serta familinya untuk mengelola tanah-tanah hutan tersebut. Maka, dimulailah pemukiman pertama Lahendong.

Sebab hasil produksi yang dibawa ke Ibukota Walak begitu baik, lama kelamaan banyak berdatangan, menetap, sehingga jumlah penduduk bertambah. Pada tahun 1765, mereka memilih Tonaas Legi, sebagai pemimpin. Mereka hidup tenteram dari bertani, menanam padi dan jagung, atau juga berburu dan menangkap ikan di Danau Linow. Pemukim-pemukim dan petani asal Sarongsong semakin meluaskan tanah Walak Sarongsong dengan menduduki tanah-tanah di bagian selatan berbatas Walak Tongkimbut.

Leave a Reply