Kantor/Balai Kelurahan Kamasi yang dibangun di masa Hukum Tua Kamasi, Turambi Turang. Kantor/Balai tersebut diresmikan Bupati Kabupaten Minahasa, Bern G Lapian pada Agustus 1979. Gedung tersebut kini telah dibongkar, dibangun yang baru.
Kantor/Balai Kelurahan Kamasi yang dibangun di masa Hukum Tua Kamasi, Turambi Turang. Kantor/Balai tersebut diresmikan Bupati Kabupaten Minahasa, Bern G Lapian pada Agustus 1979. Gedung tersebut kini telah dibongkar, dibangun yang baru.

Sejarah Kamasi

Negeri Kamasi kini berada di pusat kota Tomohon. Dulunya Negeri Kamasi disebut pernah di Nimawanua (dekat RSU Gunung Maria, kini Kolongan) dan di Walian. Negeri Kamasi yang dulunya berstatus desa, kini kelurahan, telah mekar menjadi Kelurahan Kamasi dan Kamasi 1.

Sebagai salah satu negeri tua di Tomohon tempo dulu, Kamasi lewat tokoh-tokohnya menyimpan banyak kisah. Berikut Sejarah Kamasi sebagaimana dikutib dari Naskah ‘Riwayatmu Tomohon’ yang ditulis Adrianus Kojongian.

Asal nama Kamasi timbul dari nama tumbuhan yang dibuat obat tradisional (latinnya Cubilis rumphii), bernama Masi’, atau Kamasi atau Kamesi. Versi lainnya, nama Kamasi dari kata Kakmas, karena permukiman penduduk Kamasi ketika itu berawa-rawa, kotor sekali dan bernyamuk. Di mataair Mareresak, sumber air penduduk Kamasi, masa lalu, biasanya dilangsungkan permainan rakyat Mawintian atau Bakubintik, yakni adu kekuatan kaki pukul betis, berlaga di telaga berbecek, menguji siapa orang terkuat di Tomohon. Dari rupa yang kotor setelah berlaga itulah, istilah Kakmas tercetus.

Hadis lain mengungkapan, Kamasi muncul dari kata Kamasigi, yang bermakna sombong, angkuh atau tidak menghormati. Belakangan, yang paling banyak dipercayai, disebut berasal dari kata Kamasilan, yakni nama Kulalu atau gelang dari akar bahar yang telah ditemukan Tonaas Tinaras di Walian tahun 1846, ketika penduduk Kamasi mengungsi setelah terjadinya gempa bumi dahsyat pada Februari 1846.

Yang pasti, Kamasi telah berdiri jauh-jauh hari sebelumnya. Malahan, Kamasi dianggap menjadi salah satu dari dua negeri pertama yang berdiri di Tomohon. Buktinya, Kamasi telah dikenal ketika Belanda tiba di Minahasa. Gubernur Belanda di Ternate, Robertus Padtbrugge, yang datang di tahun 1678, menggambarkan Kamasi menjadi satu pemukiman dengan Tomohon, penduduknya sebanyak 800 awu (kepala keluarga). Kamasi ditulisnya dengan nama Cormasje, dan Tomohon ditulisnya Tomon. Kamasi dalam Walak Tomohon telah merupakan pemukiman terbesar di Minahasa.

Sejarawan mengungkapan, pemukiman awal Kamasi berada di lokasi Nimawanua (kini Kolongan), ketika Tonaas Mokoagow mendirikan Negeri Tomohon pertama. Cucu Mokoagow bernama Mangangantung, memperusah negeri-negeri Sumondak, Lingkongkong, Toumunto, Kinupit bersama Kamasi, dengan nama Toumuung, yang kelak menjadi Tomohon.

Kamasi di Nimawanua berada di bagian selatan (Rumah Sakit Umum Katolik Gunung Maria, kini), di seputaran Ranosui, hingga ke bagian baratnya (kini telah menjadi permukiman dan berdiri Lembaga Pemasyarakatan Anak Tomohon). Hingga tahun 1970-an, tanah-tanah di lokasi itu masih dimiliki oleh kebanyakan penduduk Kamasi. Malah, versi lain, pemukimannya mencapai Walian.

Di masa berikut, pemukim-pemukim Kamasi ada yang berpindah ke bagian barat Kamasi sekarang, di lokasi Ranoneperet ynang di kelilingi Istambak, Sungai Ranowangko, Pinati hingga Pulutan di utara, sehingga berbatasan dengan Kakaskasen yang menjadi walak tersendiri.

Masa itulah timbul sengketa antara orang Kamasi dengan orang Kinilow dari Kakaskasen, disebabkan pemuda Kainde dari Kinilow telah meminang dan melarikan gadis Kamasi bernama Ringking Bulauan yang cantik, tanpa mendapat ijin dari orang tuanya. Dalam peristiwa tersebut, timbul konflik, dan dari hadis-hadis dikisahkan orang Kamasi telah mengejar lawannya hingga ke Sungai Lembuyan di bagian Kilo’mata.

Menurut kisah, jalan tua Tomohon-Kakaskasen saat itu masih jalan setapak (kini selatan pusat kota Tomohon), melewati Pulutan, dengan pembatas kedua walak adalah Sungai Lembuyan dan Kilo’mata. Ketika terjadi Konflik Tomohon-Kakaskasen, di Kilo’mata inilah berlangsung perkelahian, dan disebelah menyebelah Sungai Lembuyan, mereka melakukan seropen (dahar) kepala-kepala lawan yang terkayau, untuk saling memanasi. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Kilo’mata (kilo’=pucat, mata=mentah atau biru), karena demikian banyak kepala dan mata lawan dimakan mereka.

Leave a Reply