Deity S Kilis, SPd, dalam pembelajaran di Kelas 5 SD Inpres Kakaskasen 1, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Provinsi Sulut.
Deity S Kilis, SPd, dalam pembelajaran di Kelas 5 SD Inpres Kakaskasen 1, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Provinsi Sulut.

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

PENDIDIKAN |

Pendidikan Guru Penggerak – Modul 3.1.a.9 Rangkuman Koneksi Antar Materi |

Oleh: Deity S. Kilis, S.Pd

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Filosofi Pratap Triloka oleh Ki Hajar Dewnatara, sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Begitu banyak persoalan yang terjadi, baik persoalan pada murid terkait pembelajaran maupun lakunya juga guru sendiri, yang mengandung berbagai dilema.

Nah, disini sistem among dalam pembelajaran dapat digunakan guru dalam membantu murid untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Selanjutnya, unsur penting dalam Pratap Triloka, yaitu Ingarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

Ing Ngarsa Sung Tulada yang berarti bahwa seorang guru harus menjadi teladan yang baik kepada murid-murid yang dipimpinnya. Sebagai teladan, guru dalam tindak-tanduknya menjunjung nilai-nilai kebajikan.

Ing Madya Mangun Karsa, yang artinya guru sebagai pemimpin harus bisa bekerjasama dengan dengan orang lain, termasuk murid. Guru juga berperan sebagai orang tua yang dalam pelaksanaannya mampu menjalin hubungan yang baik dengan murid dalam memenuhi kebutuhannya yang berkaitan dengan perkembangan murid, termasuk dalam hal pengambilan keputusan. Melalui kerjasama yang baik dengan murid, guru dapat mengetahui berbagai kebutuhan lewat proses coaching, sehingga murid dapat menentukan keputusan yang baik termasuk keputusan yang mengandung dilema etika.

Tut Wuri Handayani, yang artinya guru mampu memberi dorongan dan motivasi kepada murid untuk terus maju dan berkembang, serta mampu mengambil keutusan-keputusan yang tepat dalam pengembangan potensinya.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Pengambilan suatu keputusan dalam situasi dilema terkadang rumit, apalagi dalam pandangan kedua-duanya benar. Disini guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil satu keputusan yang tepat, maka sangat penting menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai tersebut, yang akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Materi-materi yang dipelajari sebelumnya, juga dalam kegiatan terbimbing oleh pendamping dan fasilitator dalam kegiatan coaching sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Dengan proses coaching sendiri, dapat membantu dalam pengambilan keputusan, namun efektif atau tidaknya pengambilan keputusan, tergantung seberapa dalam guru memahami dan menerapkan prinsip, paradigma dan langkah pengujian pengambilan keputusan.

BACA JUGA:

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dasar dari pengambilan keputusan adalah nilai-nilai kebajikan. Mindfullnes atau kesadaran penuh dan 5 kompetensi dalam pembelajaran sosial emosional serta aspek yang terkandung didalamnya, dan memahami tujuan dari pembelajaran sosial emosional, akan memengaruhi pengambilan suatu keputusan. Disaat guru memiliki kesadaran penuh yang didalamnya terdapat nilai-nilai kebajikan, maka dalam pengambilan keputusan, akan berdasarkan nilai-nilai yang dimiliki.

Selanjutnya: 5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik

Leave a Reply