Catatan Akhir Tahun
Ilustrasi. (foto: pngeggcom)

Catatan Akhir Tahun

Patuh

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 di beberapa daerah (provinsi, kabupaten dan kota) di Indonesia dikabarkan berlangsung lancar. Kerumuman warga terlihat jelas ketika tahapan Pilkada berlangsung. Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) seakan tidak menjadi ancaman.

Bertolak belakang dengan pelaksanaan Pilkada serentak 2020, dalam perayaan Natal 2020, jemaat (warga) diminta beribadah di rumah saja. Berkumpul di gereja (rumah ibadah) ‘dilarang’. Hal sama juga akan diberlakukan pada perayaan Tahun Baru 2021. “Ibadah di rumah saja”, itu kesepakatan Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (Forkopimda), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dan tokoh-tokoh agama di Sulut.

Melaksanakan ibadah di rumah saja, sebelumnya juga telah menjadi kebijakan pemerintah dan para tokoh agama ketika Paskah 2020 lalu.

Warga (jemaat) taat dengan melaksanakan ibadah di rumah saja, kendati ada suara-suara yang melontarkan protes dengan alasan, seperti:

Mengapa ketika Pilkada warga boleh berkumpul/bergerombol?

Mengapa dalam perayaan Paskah, Natal dan Tahun Baru jemaat di ‘larang’ beribadah di gereja?

Mengapa mall/pusat perbelanjaan modern, toko, super market dan pasar tradisional dibuka, sementara rumah ibadah di tutup?

Mengapa pemerintah tidak menunda pelaksanaan Pilkada?

Bukankah ketika itu banyak elemen masyarakat yang meminta pelaksanaan Pilkada serentak 2020 ditunda?

Ketika itu pemerintah tak bergeming. Pilkada serentak 2020 tetap dilaksanakan, dengan syarat masyarakat dan kontestan Pilkada diminta menaati protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

Dalam perayaan Paskah, Natal dan Tahun Baru, pemerintah juga tak bergeming. Jemaat diminta di rumah saja – ibadah dari rumah -.