PUBLIKREPORT.com

Eksistensi Budaya Mapalus Ditengah Amukan Covid-19

Salah satu acara kegiatan sosial di Minahasa yang lupa menerapkan physical distancing/menjaga jarak. (foto: joppyjw)

Salah satu acara kegiatan sosial di Minahasa yang lupa menerapkan physical distancing/menjaga jarak. (foto: joppyjw)

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: http://Penyakit putih tanaman yang mulai menghilang, seperti pada daun pepaya ini, menurut sejumlah tua-tua tanah Minahasa, pertanda akan menghilangnya Covid-19.

Budaya gotong-royong atau oleh orang Minahasa menyebutnya Mapalus, yakni kebiasaan saling membantu disegala bidang seperti bertani, dalam kehidupan bersosial (acara sukacita maupun dukacita) dan lain sebagainya. Mapalus adalah warisan leluhur yang tidak pernah tergerus oleh masa, waktu dan keadaan.

Buktinya saat ini, ketika masyarakat dunia termasuk tanah Minahasa yang meliputi Kota Manado, Bitung, Tomohon, Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara (Minut), Minahasa Selatan (Minsel) dan Minahasa Tenggara (Mitra) ‘dikacau-balaukan’ oleh pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019), budaya Mapalus tetap menjadi salah satu pertahanan tangguh bagi komunitas masyarakat Minahasa.

Budaya Mapalus identik dengan suku Minahasa. Budaya Mapalus sudah teruji disegala masa dan waktu. Ini adalah kebanggaan dan identitas yang harus kita pertahankan,” kata Fanny Legoh, pemerhati Budaya Minahasa yang kini duduk sebagai wakil rakyat di DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Tipikal orang Minahasa yang mampu bertahan disemua kondisi, menurut Fanny, merupakan salah satu tempaan dari budaya Minahasa.

Dari pemantauan publikreport.com di wilayah sub etinis Minahasa, seperti Tonsea, Touluour, Tombulu dan lain-lain, Mapalus masih terlihat dalam berbagai kegiatan sosial di tengah upaya semua pihak memutus penyebaran Covid-19.

Desa Kolongan tetap dijalankan Mapalus Sosial Duka yang bernama Rombangan. Kalau ada kedukaan, semua keluarga di dua desa, yaitu Kolongan dan Kolongan Satu memberikan uang Rp5 ribu. Dan ketika ada acara Kumawus, organisasi Kerukunan Desa terkait, akan memberikan uang kue senilai Rp20 ribu,” jelas Pengurus Rombangan Desa Kolongan, Darius Loing.

Sekarang ini karena mewabahnya Covid-19, Darius mengatakan, dana yang terkumpul Mapalus Sosial Duka dibawa oleh pengurus ke rumah keluarga yang berduka.

Kan tidak boleh ada acara kumpul-kumpul. Pun setelah diserahkan kami langsung pulang,” tambahnya.

Sementara di wilayah Tombulu, yakni Kota Tomohon, masyarakat menjalankan Mapalus Dana Sosial Duka dengan menerapkan Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19.

Karena Corona, maka acara Sumampet (Ibadah Penghiburan 1 Minggu) ditiadakan. Tapi bantuan sosial seperti Dana Kebersamaan Kelurahan sebesar Rp5 ribu per Kepala Keluarga (KK), Dana Kebersamaan PKK Rp10 ribu/KK, Vons Lingkungan berupa bahan makanan tetap dibawa kepada keluarga yang berduka,” kata Ketua Serikat Sosial Kelurahan Kayawu, Jesaya Lasut.

Kota Manado, merupakan Ibukota Provinsi Sulut dan kini telah menjadi pusat bisnis, namun budaya Mapalus masih dijalankan oleh masyarakat di sejumlah wilayah.

Kalau ada kedukaan, semua keluarga yang ditentukan tetap membawa masakan. Tapi karena ada Corona, kali ini masakan diganti dengan uang sebesar Rp100 ribu/KK,” kata Pengurus Rukun Kelurahan Buha, Kecamatan Mapanget, Frangky Manoreh.

Mapalus atau kegiatan bersosial dalam pandemi Covid-19 sering terjadi perbedaan komando antara pemerintah dan pimpinan Rukun Adat. Seperti yang terjadi di salah satu desa yang ada di Kecamatan Tombariri Timur, Kabupaten Minahasa.

Dalam suatu acara, masyarakat terlihat saling berhimpitan, pemerintah setempat terkesan melakukan pembiaran dan tidak menghadiri acara.

Mungkin hukum tua (kumtua) disini menjaga nama. Takut kehilangan pendukung karena pemilihan sudah dekat. Makanya dia tidak melarang acara-acara disini,” ujar salah satu warga berinisial ST.

Menyadari hal yang tidak menerapkan/menegakkan Protokol Kesehatan Covid-19, Pendeta (Pdt) Frida Pinologot Sarjana Theologia (STh), dalam khotbahnya mengingatkan apabila semua pihak harus berjuang untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Patuhi imbauan pemerintah, menjaga jarak, physical distancing, memakai masker, sering mencuci tangan di air yang mengalir dengan sabun dan lain-lain,” imbaunya.

Dari pantauan publikreport.com dibeberapa wilayah Minahasa, secara keseluruhan, masyarakat dengan latar belakang budaya Mapalus, bisa dengan mudah untuk bersinergi dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19, termasuk ketika New Normal dilaksanakan. JOPPY JW

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Berharap Kasus Sembuh Covid-19 Kian Banyak

Read Next

Tanda Alam yang Dipercayai Akan Berakhirnya Covid-19