PUBLIKREPORT.com

EMAS yang Tak Berkilau

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Jimmy Feidie Eman dan Syerly Adelyn Sompotan terpilih sebagai Walikota dan Wakil Walikota Tomohon pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015 dengan mengkampanyekan EMAS (e-Government, Merubah wajah kota, Akselerasi pembangunan, Smart city). Tajuk EMAS dijanjikan akan dikonkritkan dalam 7 Program Dedicated.

Tahun 2019 memasuki tahun ketiga pemerintah, EMAS terlihat (masih) tak berkilau. E-Government masih sebatas penerapan, pembuatan aplikasi berbasis website yang hanya diakses pemerintah ke pemerintah. Demikian halnya Smart city. Masyarakat sebagai tujuan pembangunan belum dapat mengakses aplikasi yang sementara dan telah dibuat Pemerintah Kota Tomohon.

Sementara Merubah wajah kota dan Akselerasi pembangunan juga belum nampak akselerasinya. Di sana-sini masyarakat masih mengeluh soal gelapnya Kota Tomohon di malam hari alias kurangnya lampu penerangan jalan, sulitnya masyarakat mendapatkan air bersih dari PDAM atau air kerap tidak mengalir ke rumah-rumah pelanggan, pasar dan terminal yang semrawut, pusat kawasan kuliner yang kurang elok (tidak sesuai dengan konsep awal), trotoar yang dibangun asal jadi (berlubang) hingga sering tidak digunakan pejalan kaki malah dibeberapa tempat dijadikan tempat parkir, ruang terbuka hijau (RTH) yang kurang, tempat pembuangan sampah akhir dan manajemen sampah yang belum tertata, masih adanya jalan rusak/berlubang, kurangnya drainase, taman bunga yang kurang (malah besi-besi tatakan bunga di pusat kota dibiarkan kosong), Puskesmas dan Pustu yang terkesan terlantar di beberapa kelurahan, beberapa sekolah dasar yang kurang mendapat perhatian bangunannya, masih adanya masyarakat yang tak berdaya, namun belum mendapat sentuhan dari pemerintah, perizinan pembangunan yang diduga melanggar konsep RTRW, sulitnya transportasi ke beberapa wilayah karena tidak ada trayek, tidak adanya tempat parkir yang memadai sehingga lalu lintas sering nampak semrawut (macet), terminal bayangan di mana-mana, tidak tergeraknya sektor riil, yakni usaha kecil dan mikro, tingginya angka penganguran dan masih minimnya penanaman modal dalam negeri maupun luar negeri untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kota yang berotonom pada tahun 2003.

Tak dipungkiri, sejak Tomohon menyandang Kota Otonom banyak infrastruktur yang telah dibangun, seperti trotoar, jalan pertanian, jalan-jalan berlapis hotmix, Puskesmas/Pustu, resting area di Kinilow, hutan kota/taman kota bahkan kantor walikota berubah menjadi Mall Pelayanan Publik (MPP) lengkap dengan Taman Kabasaran untuk party dan lain-lain.

BACA JUGA: Menengok Smart City di Tomohon
BACA JUGA: Si Andal Tom, Aplikasi Perencanaan Berbasis Website di Tomohon
BACA JUGA: Sejauh Mana Penerapan e-Government di Tomohon?

Read Previous

Apa Itu Stasiun Jalan? Ini Penjelasannya

Read Next

Isu Teroris, Camat Instruksikan Lurah/Kumtua Waspada

Leave a Reply