Gerakan Upaya Penanggulangan Kekeringan
Penanggung Jawab Upaya Khusus (Upsus) Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) di Sulawesi Utara (Sulut) yang juga Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementan, Andriko Notosusanto, usai rapat koordinasi, Jumat 06 September 2019 di Bolaang Mongondow (Bolmong), melakukan peninjauan ke lahan siap tanam, namun sudah terdampak kekeringan.

Gerakan Upaya Penanggulangan Kekeringan

BOLMONG, publikreport.com – Secara nasional Kementerian Pertanian (Kementan) dan semua pihak terkait dengan pertanian termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) membangun gerakan bersama dalam upaya menanggulangi kekeringan yang mulai melanda nusantara.

Demikian diungkapkan Penanggung Jawab Upaya Khusus (Upsus) Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) di Sulawesi Utara (Sulut) yang juga Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementan, Andriko Notosusanto pada Rapat Koordinasi (Rakor) Upsus Tingkat Provinsi, Jumat 06 September 2019, bertempat di Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian (WKBPP) Bolmong.

Tujuan gerakan bersama ini, Andriko menjelaskan, yakni yang sudah tertanam atau standing crop diamankan dari ancaman kekeringan. Artinya aman sampai panen hasilnya. Selanjutnya yang terdampak, artinya sudah ditanam ada kemungkinan kurang air, diupayakan jangan sampai gagal atau tidak panen (puso). Dengan kata lain, hidup dengan bantuan fasilitas pendukung yang telah diberikan, hingga dapat panen.

Upaya mengantisipasi kekeringan, saya mengutib hasil rakor kemarin, dimana hasil identifikasi lapang titik-titik kekeringan dan daerah-daerah yang masih ada air, sudah ditindak lanjuti dengan penyaluran fasilitas pendukung oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulut. Itu diberdayakan agar tidak sampai gagal panen (puso). Untuk itu terus melakukan koordinasi terpadu, dan saling memberikan informasi terkait setiap kejadian di lapangan,” jelasnya.

Titik-titik yang tidak terjangkau dan ada potensi sumber air dangkal, kedalaman kurang dari 50 meter, Andriko menegaskan, dapat dipercepat pengusulannya. Dan yang mendesak dipercepat adalah daerah potensi ada sumber air, tapi tidak terjangkau, karena jauh dan harus dialirkan. Atau sudah ditanam, namun berpotensi kekeringan, tapi dekat sumber air. Itu diarahkan pompanya ke sana dan fasilitasi operasionalnya.

Saat ini penting bagi kita yang ada di wilayah khatulistiwa, bangkitkan jiwa nasionalis kita. Bersama kita dorong petani untuk tingkatkan Luas Tambah Tanam (LTT). Kita di daerah masih ada air untuk dapat nasion mengkompensasi di wilayah yang saat ini sudah kering dan puso,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan