You are currently viewing Hak yang Tidak Didapatkan oleh Narapidana Seumur Hidup
Ilustrasi.

Hak yang Tidak Didapatkan oleh Narapidana Seumur Hidup

Menurut Pasal 5 UU Pemasyarakatan, sistem pembinaan pemasyarakatan dilaksanakan berdasarkan asas:

pengayoman;

persamaan perlakuan dan pelayanan;

pendidikan;

pembimbingan;

penghormatan harkat dan martabat manusia;

kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan; dan

terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu.

Ini artinya, seluruh narapidana memiliki hak-hak dasar yang sama untuk dilakukan pembinaan terhadapnya sesuai asas-asas di atas, termasuk untuk narapidana yang dihukum pidana mati sekalipun. Penjelasan selengkapnya dapat Anda simak dalam artikel Apakah Terpidana Mati Juga Perlu Pembinaan? Lalu bagaimana dengan hak atau pembinaan bagi narapidana seumur hidup itu?

Dari sejumlah hak yang diberikan kepada warga binaan Lapas yang telah kami sebutkan, ada hak yang tidak dapat diberikan kepada narapidana seumur hidup, yakni cuti mengunjungi keluarga. Hal ini disebut dalam Pasal 36 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat (“Permenkumham 21/2013”) yang mengatur bahwa cuti mengunjungi keluarga tidak dapat diberikan kepada narapidana yang dipidana hukuman seumur hidup.

Selain hak cuti mengunjungi keluarga, hal lain yang tidak diberikan kepada narapidana seumur hidup yakni asimiliasi. Asimilasi adalah proses pembinaan narapidana dan anak didik pemasyarakatan yang dilaksanakan dengan membaurkan narapidana dan anak didik pemasyarakatan dalam kehidupan masyarakat. Demikian yang disebut dalam Pasal 1 angka 2 Permenkumham 21/2013.

Ketentuan yang mengatur bahwa narapidana seumur hidup tidak diberikan asimilasi adalah Pasal 33 Permenkumham 21/2013 yang berbunyi:

Leave a Reply