You are currently viewing Harapan di Tengah Generasi Petani yang Makin Kritis
Desa Santan terkenal dari dulu sebagai sentra kelapa, dan kini akibat aktivitas tambang dan PLTU dampaknya banyak pohon kelapa mati. (Foto: Tommy Apriando/ Mongabay Indonesia)

Harapan di Tengah Generasi Petani yang Makin Kritis

Lulus dari Fakultas Perikanan, Universitas Mulawarman, tak membuat Taufik Iskandar, tertarik bekerja menjadi karyawan swasta atau pegawai negeri. Dia memilih bertani di lahan warisan keluarga di Desa Santan Hilir, Kecamatan Muarangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kala saya mengunjungi kampung dan lahan milik Taufik, dia baru saja gagal panen. Tanaman cabai siap panen rusak karena banjir besar setinggi satu meter.

Dia bilang, banjir karena hutan lindung hulu Sungai Santan rusak oleh pertambangan batubara.

Kampung Taufik, berdekatan dengan pertambangan dan pembangkit listrik batubara. Sungai yang dulu bersih, kini kotor dan tercemar limbah pertambangan. Pilihan Taufik bertani agar lahan tak terjual kepada perusahaan tambang.

Menurut Taufik, bertani merupakan warisan leluhur. Dia bisa lulus kuliah dengan biaya hasil tani.

“Jika semua keluarga memilih ke kota, lahan akan terjual dan berganti tambang. Kami melawan tambang lewat bertani,” katanya.

Dia tidak sendiri selaku petani muda di kampung itu. Bersama rekan-rekan, dia mempersiapkan koperasi tani dan menjalankan rumah belajar bagi warga kampung. Tujuannya, ada transformasi pengetahuan terbagi merata.

Dia tak kapok walau beberapa kali panen gagal terkena banjir. Ia jadikan pembelajaran dan mencari mitigasi pencegahan.

“Saya akan bangun kampung dan kembalikan kejayaan Santan dari tanaman kelapa dan hasil pertanian lain,” katanya.

Di Probolinggo, Jawa Timur, Romi Abrori, memilih memuliakan benih-benih lokal pertanian di seluruh penjuru negeri. Menurut Abrori, bisa berakibat fatal pada ketahanan negara bila ketergantungan petani pada benih hibrida produksi korporasi besar.

“Jika petani tak berdaulat benih, ini ancaman nyata bagi kedaulatan negara dan bangsa,” katanya.

Petani, katanya, harus didukung mengembangkan benih asli lokal hingga tak tergantung hibrida korporasi yang harus beli tiap akan menanam.

Ketergantungan petani pada benih hibrida korporasi, katany, awal dari pemiskinan petani. Secara kelembagaan, kata Abrori, pemerintah lumayan dalam pelestarian benih lokal.

Persoalannya, masalah kedaulatan benih di Indonesia, setidaknya ada dua penyebab.Pertama, kriminalisasi petani pakai benih sendiri.Kedua, ruang terbuka sebesar-besarnya kepada korporasi benih sebagai penyedia benih subsidi yang dibagikan ke petani.

“Dua hal ini menunjukkan pemerintah tak mau atau pura-pura tak tahu kemandirian benih salah satu pilar strategis bagi kedaulatan dan kesejahteraan petani,” katanya.

Khusus benih lokal sebagai kekayaan hayati, katanya, pemerintah mengelola sebatas romantisme kolektor semata. Ia jadi barang eksotis yang dibanggakan di atas presentasi pertemuan, kala menjaga dan mengembangkan kekayaan plasma nutfah itu, masih jauh dari ideal. “Jika pemerintah tak mendorong benih lokal, petani akan makin jauh dari sejahtera dan mewujudkan kedaulatan pangan,”

Ketergantungan petani pada benih korporasi melalui skema subsidi benih sangat berbahaya. Skema ini, kata Taufik, sesungguhnya berisiko krisis pangan. Alasannya, pertama, Ketergantungan, katanya, mengikis kemampuan petani memuliakan benih mandiri. Belum lagi skema subsidi benih kerap kali dibarengi regulasi justru mengkriminalisasi petani pemulia benih.

Kedua, ketergantungan benih korporasi menyebabkan kepunahan masif heirloom seed atau benih asli turun temurun.

“Padahal benih asli turun temurun merupakan bahan dasar menghasilkan benih-benih unggul dan adaptif. Kondisi ini, dalam keadaan perubahan iklim, dapat memastikan kita akan menghadapi krisis pangan.”

Saat ini, dia sudah membentuk lebih 35 bank benih lokal di berbagai daerah. Dia akan terus melakukan pemuliaan benih bersama rekan-rekan muda yang tergabung Gerakan Benih Lokal Berdaulat.

Leave a Reply