Perajin gerabah di Desa Pulutan Kecamatan Remboken Kabupaten Minahasa, dari generasike generasi. (Foto: Zonautara.com)
Perajin gerabah di Desa Pulutan Kecamatan Remboken Kabupaten Minahasa, dari generasike generasi. (Foto: Zonautara.com)

Ini Generasi Perajin Gerabah di Desa Pulutan

REMBOKEN, publikreport.com – Menghasilkan gerabah kualitas terbaik ternyata butuh kesabaran khusus. Begitulah setidaknya yang Tim Redaksi Zona Utara saksikan saat melakukan Liputan Khusus di Pusat Pelatihan Keramik Pulutan, Kabupaten Minahasa.

Yulin Ngelo, seorang perempuan berumur 62 tahun, tampak cekatan memukul-mukul tanah gumpalan liat yang baru dibelinya. Tak sampai tiga menit berselang, gumpalan tanah liat tersebut sudah berbentuk seperti vas bunga.

“Ini baru tahap awalnya. Masih harus diolah dan dibentuk lagi. Setelah ini, mungkin dua-tiga hari kemudian baru akan diolah lagi menjadi bentuk yang diinginkan,” kata Yulin, Sabtu 18 November 2017.

Di Pusat Pelatihan Keramik Pulutan, meski punya keahlian sebagai seorang pengrajin gerabah, Yulin sebenarnya hanya bertugas di bagian pembakaran saja. Dia bersama beberapa orang lainnya dalam beberapa hari sekali melayani pembakaran gerabah dari para pengrajin yang ada di Desa Pulutan.

Dijelaskannya, ada dua jenis pembakaran gerabah, yaitu pembakaran Biskuit dengan suhu 600° celsius dan pembakaran Glasir dengan suhu 1.200° celsius.

“Untuk setiap pembakaran, memakan waktu sekitar enam jam. Kalau jarum di pyrometer sudah menunjukkan suhu maksimum, berarti gerabah sudah masak, dengan warna yang kemerahan,” ujar Yulin.

Leave a Reply