Menteri PPPA, Bintang Puspayoga pada webinar Perlindungan Anak dari Paparan Asap Rokok dan Target Industri sebagai Perokok Pemula, Minggu 31 Mei 2020, yang dilaksanakan LPAI, memperingati Hari Tanpa Tembakau se-Dunia.
Menteri PPPA, Bintang Puspayoga pada webinar Perlindungan Anak dari Paparan Asap Rokok dan Target Industri sebagai Perokok Pemula, Minggu 31 Mei 2020, yang dilaksanakan LPAI, memperingati Hari Tanpa Tembakau se-Dunia.

Jumlah Perokok Pemula Meningkat, Menteri Bintang Kuatir

JAKARTA, publikreport.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (PPPA), Bintang Puspayoga mengungkapkan kekuatirannya melihat jumlah angka perokok pemula yang terus meningkat setiap tahunnya. Kekuatirannya juga terkait beredar video viral di media sosial (medsos) yang memperliuhatkan sekelompok anak sedang merokok. Lebih ironis lagi, menurutnya, beberapa orang dewasa tampak di sekitar mereka, namun melakukan pembiaran.

“Rokok menghambat hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Hal ini berlaku pada anak yang menjadi perokok aktif maupun anak yang terpapar asap rokok atau pasif. Kami sangat kuatir, karena berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar pada 2018, tercatat sebanyak 2,1 persen anak usia 10-14 tahun sudah merokok dan 2 persen diantaranya bahkan merupakan mantan perokok. Selain itu, prevalensi merokok penduduk usia anak 10-18 tahun sebanyak 9,1 persen pada 2018. Hal ini menjadi perhatian serius kami,” ungkap Bintang Puspayoga dalam webinar Perlindungan Anak dari Paparan Asap Rokok dan Target Industri sebagai Perokok Pemula, Minggu 31 Mei 2020, yang dilaksanakan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), memperingati Hari Tanpa Tembakau se-Dunia Tahun 2020.

Perokok pemula dengan kategori usia 10-18 tahun ini, Bintang menjelaskan, disinyalir menjadi target utama industri rokok.

“Kemudahan akses bagi anak terpapar informasi pemakaian rokok dan akses mendapatkan rokok dengan harga murah menjadi salah satu penyebabnya. Sebanyak 28 persen remaja merokok saat berkumpul dengan teman sebayanya (Penelitian Komasari dan Helmi, 2000 dalam Profil Anak Indonesia, 2019). Hal Ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok pada perokok pemula dapat terus menyebar antar teman sebaya jika tidak dilakukan intervensi dengan serius. Namun selain teman sebaya, orang tua yang merokok merupakan salah satu contoh buruk bagi anak,” jelasnya.

Bintang mengungkapkan, terdapat hubungan yang signifikan antara status merokok anak dengan paparan iklan rokok, pemberian sampel rokok gratis, sponsor rokok di acara olahraga, logo rokok pada merchandise, sponsor rokok di acara musik, dan harga diskon (Tobacco Control Support Center IAKMI).

“Kami mendorong agar segala bentuk iklan, promosi dan sponsor rokok dilarang secara tegas karena mempengaruhi anak-anak kita. Jika tidak ada upaya serius, maka pada 2030 jumlah perokok anak akan mencapai 15,8 juta atau 15,91 persen (Proyeksi Bappenas, 2018). Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan Kementerian PPPA untuk mencegah terpaparnya anak-anak dari rokok. Salah satunya yaitu dengan mengeluarkan kebijakan yang menyentuh ke sistem perlindungan anak di tingkat daerah. Kementerian PPPA telah menetapkan upaya pengendalian tembakau atau rokok sebagai salah satu dari 24 indikator Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Hal ini diterapkan melalui tersedianya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan tidak adanya iklan, promosi serta sponsor rokok di daerah,” ujarnya.

Kementerian PPPA, Bintang melanjutkan, juga mendukung upaya pengendalian rokok utamanya bagi anak, yaitu melalui Sosialisasi Bahaya Rokok dan Kesehatan Reproduksi bagi Anak sebagai Pelopor dan Pelapor (2P), Kampanye Anak Indonesia Hebat Tanpa Rokok secara terus menerus, penguatan kapasitas dan peran Forum Anak sebagai 2P mengenai Bahaya Rokok, serta beberapa program lainnya yang intinya untuk mencegah dan menghindarkan anak dari rokok.

Selain itu, Kementerian PPPA juga terlibat dalam penyusunan rekomendasi Policy Round Table bersama mitra kementerian/lembaga dan lembaga non pemerintah, yang hasilnya digunakan sebagai masukan bagi Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dalam menyusun RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2024.

Untuk menyuarakan pendapat, Bintang mengungkapkan, Kementerian PPPA telah membuat wadah bagi anak-anak Indonesia, melalui Forum Anak. Forum Anak ini telah terbentuk secara nasional, provinsi, kabupaten/kota hingga desa/kelurahan.

“Peran Forum Anak sebagai pelopor dan pelapor menjadi sangat penting dalam menyuarakan perlindungan anak dari bahaya rokok. Tidak hanya itu, anak juga memiliki potensi yang besar untuk memberikan pengaruh pada lingkungan sekitar, termasuk masyarakat secara luas,” terangnya.

Tahun 2020 ini, Bintang memaparkan, Kementerian PPPA akan menginisiasi Smoke-Free Family (Keluarga Bebas Rokok) sebagai salah satu upaya pengendalian tembakau/rokok melalui lingkup keluarga. Kementerian PPPA juga terus berupaya membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor dalam melindungi anak-anak dari bahaya rokok.

“Kami percaya bahwa perlindungan anak dan tumbuh kembang anak yang optimal dapat terwujud dengan adanya kerja sama kuat dari berbagai pihak, termasuk LPAI sebagai organisasi masyarakat penggiat perlindungan anak. Indonesia bisa menjadi negara maju, apabila anak-anak dapat tumbuh dengan sehat, cerdas, berakhlak, dan berkarakter,” paparnya.

Leave a Reply