Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri.
Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri.

Kapolri: Kelompok Ali Kalora Terus Diburu

HUKUM & KRIMINALITAS

JAKARTA, PUBLIKREPORTcom – Satuan Tugas (Satgas) Madag Raya TNI/Polri (Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia) terus memburu Kelompok Muhahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

“Kami akan terus melakukan pengejaran terhadap kelompok Ali Kalora,” kata Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat rapat kerja (raker) dengan Komisi 3 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Rabu 16 Juni 2021.

Sampai dengan saat ini, kelompok MIT pimpinan Ali Kalora, menurut Listyo, tercatat tersisa sembilan orang.

Tahun ini, Listyo menjelaskan, personil TNI/Polri melakukan tindakan tegas, terukur kepada dua buronan kelompok itu, yakni Alvin alias Adam alias Mus’ab DPO (Daftar Pencarian Orang) Banten dan Hairul alias Irul DPO Poso.

Operasi Madago Raya dilaksanakan ejak Januari 2021. Pada tahap satu telah berhasil melakukan tindakan tegas, terukur terhadap dua DPO,” jelasnya.

Pergerakan kelompok MIT, Listyo mengungkapkan, telah diketahui pihaknya.

“Ditemukan informasi kuat terkait pergerakan mereka,” ungkapnya.

Tentang MIT

Mujahidin Indonesia Timur (MIT), adalah sebuah kelompok yang beroperasi di wilayah pegunungan Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Sepeninggal Santoso, MIT dipimpin Ali Kalora.

Pada tahun 2014, MIT telah menyatakan sumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

MIT secara umum melakukan operasi mereka di daerah Sulawesi Tengah, tetapi mereka juga mengancam untuk menyerang target mereka di seluruh Indonesia. Operasi kelompok ini biasanya menimbulkan korban jiwa, dan mereka juga dilaporkan terlibat dalam bentrokan kelompok Muslim dan Kristen di Maluku pada 1999 hingga 2002.

Pemimpin MIT, Santoso, tewas pada kontak tembak pada 18 Juli 2016.

MIT telah dinyatakan sebagai kelompok teroris oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah Komite Sanksi Al-Qaeda pada 29 September 2015. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) juga telah menyatakan bahwa MIT adalah organisasi teroris. Santoso juga masuk dalam Daftar Teroris Global (SDGT) Amerika Serikat. Sebagai konsekuensi dari pencatatan itu, semua bentuk properti di daerah yurisdiksi AS yang mengatasnamakan Santoso akan diblokir.

Paham yang disinyalir dipakai kelompok MIT adalah yang disebarkan tiga tokoh penganut Tauhid wal Jihad, sebuah ideologi jihad yang muncul di Irak pada 2001. Ketiga orang tersebut, yaitu Abu Muhammad al-Maqdisi, Abu Musab al-Zarqawi, dan Abu Bakr al-Baghdadi. Mereka masuk ke Indonesia pada 2001. Zarqawi kemudian mendirikan Negara Islam Irak.

Orang pertama di Indonesia yang diketahui menyerap dan menyebarkan paham itu adalah Aman Abdurahman. Aman diketahui mampu menerjemahkan lebih dari 50 kitab karangan Abu Muhammad al-Maqdisi.

Pada 2008, Aman terlibat dalam pembentukan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang didirikan oleh mantan pemimpin Jamaah Islamiyah, Abu Bakar Ba’asyir. Beberapa orang yang menjadi anggota perkumpulan itu adalah Santoso alias Abu Wardah dan juga Bahrumsyah yang nanti akan membentuk Mujahidin Indonesia Barat (MIB). Empat tahun kemudian, kelompok tersebut masuk daftar Organisasi Teroris Asing oleh pemerintah Amerika Serikat.

Gagasan membentuk Negara Islam mulai menguat pada 2009. Kelompok Lintas Tanzim Aceh menjadi penggagasnya. Kelompok ini merupakan aliansi dari berbagai macam kelompok jihad Indonesia seperti JAT, Kelompok Ring Banten, Mujahidin KOMPAK, Tauhid wal Jihad, dan kelompok lainnya. Penggagas utama Lintas Tanzim Aceh adalah Dulmatin, buronan teroris nomor satu di Asia Tenggara saat itu.

Dulmatin menghubungi sejumlah tokoh untuk mendukung gagasannya. Amir JAT saat itu, Abu Bakar Ba’asyir, setuju. Ba’asyir sempat meminta bantuan Abu Tholut, pengurus JAT, untuk membantu proyek ini dan bersedia membantu pendanaan proyek ini. Menurut rencana awal, Aceh akan dijadikan qoidah aminah atau daerah basis, setelah itu baru dideklarasikan Negara Islam. Aceh kemudian menjadi basis pelatihan militer. Tapi, proyek ini kandas di tangan pemerintah. Pelatihan militer di daerah Jantho, terendus aparat keamanan. Polisi kemudian memburu para peserta pelatihan sekaligus penanggungjawabnya. Pada 2010, dalam penyerbuan di Pamulang, Tangerang Selatan, aparat keamanan berhasil menembak mati Dulmatin. Puluhan orang yang terlibat ditangkap, termasuk Abu Bakar Ba’asyir yang dianggap mendanai proyek ini.

Leave a Reply