Kasus Raskin Bulog, Adakah Kades Bakal Jadi Tersangka?
Ilustrasi.

Kasus Raskin Bulog, Adakah Kades Bakal Jadi Tersangka?

KRIMINALITAS

BOLMONG, publikreport.com – Kepala Satuan (Kasat) Reserse Kriminal (Reskrim) Kepolisian Resort (Polres) Bolaang Mongondow (Bolmong), Ajun Komisaris Polisi (AKP) Hanny Lukas dari pemeriksaan terhadap 13 kepala desa (kades) terkait kasus dugaan penyelewengan beras miskin (raskin) Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bolmong, ditemukan kejanggalan distribusi kurang lebih 100 ton raskin.

“100 ton raskin ini diduga diselewengkan dan tidak sampai ke warga miskin. Sejumlah bukti administrasi telah dikantongi,” ungkap Hanny 23 Februari 2018.

100 ton raskin ini, Hanny menjelaskan, diduga dijual kemudian uang hasil penjualan beras dibagi bersama para kades.

“Setelah kita periksa, ternyata berita acara penerimaan raskin tidak sama. Tiga belas kades saja jumlah raskin yang ditemukan kurang lebih 100 ton,” jelasnya.

Menurut Hanny, memang tidak semua kades terlibat kerjasam dengan Pegawai Bulog. Sebab ada beberapa kades kaget ketika melihat berita acara penyerahan dari Bulog.

“Mereka heran bahwa data mereka, berbeda dengan data dari Bulog,” ujarnya.

Modus

BACA JUGA: Sejumlah Oknum Kades Diduga Terlibat Korupsi Raskin

Modus distribusi raskin seperti ini, Hanny melanjutkan, diduga sudah lama dilakukan pihak Bulog. Raskin yang seharusnya diterima setiap bulannya, ternyata didistribusikan tiga bulan sekali dengan kebutuhan yang tidak sesuai.

Permainan raskin antara petugas Bulog dan oknum kades, yakni jatah raskin dikurangi dan beras tersebut dijual keluar daerah. Sedangkan uang hasil dari penjualan beras dibagi.

“Modusnya, misalnya jatah untuk desa A tiga ton, itu disalurkan tiga bulan. Seharusnya sembilan ton yang diterima. Nah, yang lima ton diduga diselewengkan dan uang hasil penjualan dibagi,” terangnya.