You are currently viewing Katingolan, Kota Tua Tombariri dan Woloan
Waruga Supit yang kini berada di depan Gereja Eben Haezar Woloan.

Katingolan, Kota Tua Tombariri dan Woloan

Oleh: Adrianus Kojongian

Tombariri, kini Kecamatan di Kabupaten Minahasa; serta Woloan, kini empat kelurahan di Kecamatan Tomohon Barat Kota Tomohon, bermula bertempat di Katingolan atau disebut juga Katingelan, yang disebut pula Tombariri.

Penyebutan Katingolan atau Katingelan, ditafsirkan sebagai celah sempit yang kemudian melebar. Memang, letak negeri tua ini sangat strategis, diapit jurang-jurang dalam di utara dan selatannya, sehingga merupakan perbentengan alamiah. Di masa silam, pintu gerbang masuknya adalah melalui bagian timurnya, di celah selebar lima meter yang dipasangi jembatan bambu kimbok dan bambu-bambu runcing ditanam. Kestrategisannya pun ditambahi oleh lima sumber mataair penting di bagian utara yang berjajar dari timur ke barat, yakni mataair: Woloan, Sarapun, Manunumbeng, Walean dan Walanda.

Negeri yang awalnya bernama Tombariri ini didirikan oleh Tonaas Kaawoan atau Kauwan. Dia adalah anak Kepala Pakasaan Kakaskasen bernama Sumoindong (Lumoindong), saudara dari Mokoagow pendiri Tomohon dan Tumbelwoto pendiri Sarongsong. Kaawoan berangkat dari Maiesu (Meyesu) dengan rombongannya menuju ke barat melalui Sarongsong. Tidak jauh dari negeri tua Sarongsong di Tulau, ia bersama keluarga dan pengikutnya membangun pemukiman pertama di tempat yang banyak ditumbuhi rumput wariri. Itulah sebabnya mereka menyebut diri dan tempatnya sebagai Touwariri, lalu kemudian Tombariri.

Meski demikian, cerita tentang timbulnya nama Tombariri, menurut tradisi, telah muncul jauh sebelum Tonaas Kaawoan. Konon, sebenarnya telah ada pemukiman purba. Pada suatu hari ketika penduduk sedang mengerjakan Mapalus, datang angin topan, yang menerbangkan mereka. Yang tertinggal hanya mereka yang sempat memegang rumput wariri, sehingga kemudian tempatnya dinamai wariri dan kemudian Tombariri. Kisah ini dikaitkan dengan tokoh Siow Kurur yang kemudian meninggal dan dikuburkan di Kentur Pinaras.

Ada versi lain lagi, kalau dotu perintis pendirian Tombariri adalah tokoh bernama Tambariri, dengan mengambil namanya. Cucunya bernama Salea menjadi istri Tonaas Makiohlor (Makiohloz alias Ohlor), kepala Kakaskasen terkenal.

Beberapa waktu setelah Kaawoan meninggal, Tombariri diperintah Tonaas Pasiowan, dan di masanya pengayauan merajalela. Maka, diundang Tonaas Lokon Mangundap, jago dari Kakaskasen. Namun, ada versi kebalikannya, bahwa Lokon Mangundap asli Tombariri. Sebelumnya ia memang dari Kakaskasen. Tapi, pindah ke Tombariri setelah di Meyesu berkembang ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Makiohloz.

Dari versi kedua ini, Lokon Mangundap justru diundang oleh kepala Kakaskasen1. Bersama Kalelo, Aper, Karundeng, Kapalaan dan Posumah (menurut Dr.J.F.G.Riedel terdiri: Lokon Mangundap, Keleleh, Aper, Karundeng, Kapongoan dan Posumah), ia dapat memberantas para pengayau bernama Zakian dan Zaziha dari Bantik yang merajalela di Mandolang (sekarang Buloh-Tateli Weru, Kecamatan Pineleng Minahasa). Kejadiannya ditaksir terjadi di tahun 1500-an.

Leave a Reply